Di Balik Sunyi Jawaban Inspektorat, Seakan Ada Sesuatu yang Disembunyikan dari Cahaya Publik
Transparansi Tanpa Tawar.

Subang —Di tengah riuh birokrasi yang sering bicara terlalu banyak namun menjelaskan terlalu sedikit, datanglah sebuah surat dari Inspektorat Kabupaten Subang. Surat yang seharusnya memberi jalan terang bagi permohonan informasi publik, namun justru terasa seperti kabut pagi—dingin, samar, dan menutupi pandangan.
Spirit Revolusi membaca surat itu perlahan, seperti membaca pesan dari rumah yang jauh. Namun alih-alih ketulusan, yang tampak adalah syarat-syarat, batasan-batasan, dan dinding-dinding administratif yang berdiri di mana pintu keterbukaan seharusnya ada.
Lembut di permukaan, namun di dalamnya menyimpan penolakan yang dipoles dengan pasal.
Inspektorat menyampaikan bahwa banyak hal harus diverifikasi. Akta pendirian harus lengkap, domisili harus jelas, kegiatan organisasi harus dibuktikan. Seolah memohon informasi adalah tindakan yang harus melewati gerbang-gerbang ujian, bukan hak yang dijamin undang-undang.
Padahal hukum sudah berkata:
Bahwa siapa pun, tanpa syarat, berhak bertanya kepada negara—dan negara wajib menjawab.
Namun jawaban yang datang justru berkata: Beberapa laporan tak boleh dibuka.Beberapa catatan dianggap rahasia.Beberapa hal tak dapat diberikan kepada publik.Seakan-akan anggaran diawasi bukan untuk rakyat, melainkan untuk dirinya sendiri.
Spirit Revolusi tidak membalas dengan kemarahan. Hanya dengan lirih, mengirim keberatan yang diterima resmi pada 9 Desember 2025.Karena kebenaran tidak perlu berteriak.Cukup berdiri, dan cahaya akan mencari jalannya sendiri.
Dalam surat keberatan itu, Spirit Revolusi mengingatkan:Bahwa terlalu banyak pagar yang dipasang justru menunjukkan ada yang berusaha disembunyikan. Bahwa transparansi bukanlah beban yang harus dihindari, tetapi kewajiban yang harus dipenuhi.
Bahwa rakyat hanya ingin mengetahui bagaimana uangnya digunakan, dan apakah amanah itu dijaga dengan baik.
Kini, keputusan ada di tangan atasan PPID Inspektorat Kabupaten Subang.
Semoga mereka memilih jalan yang lebih teduh—jalan yang tidak menutup pintu bagi mereka yang hanya ingin melihat.
Sebab gelap tidak pernah mampu menolak cahaya; ia hanya menunggu seseorang berani menyalakan lilin.
Spirit Revolusi tetap berdiri di sana—diam, tetapi tidak mundur.Lembut, tetapi tidak padam.Mengawasi dari kejauhan, mengingatkan dengan tenang, dan berharap bahwa suatu hari nanti, Subang tidak lagi menyembunyikan apa yang seharusnya milik publik.
Redaksi




