Durian yang Lebih Cepat Disantap daripada Keadilan yang Ditegakkan

Dairi | — Kasus dugaan penganiayaan terhadap Syahdan Sagala, warga Jalan Pandu Bintang Selamat, terus menuai perhatian publik. Setelah korban menyampaikan kronologi kejadian dan menunjukkan surat pernyataannya, kini muncul tanggapan dari salah satu anggota polisi yang disebut berada di lokasi peristiwa.
Sebelumnya, Syahdan menuturkan bahwa saat kejadian pada 16 Desember 2025, ada oknum polisi yang memakan durian dagangannya tanpa izin dan tanpa membayar, sementara ia bersama istri dan anak perempuannya tengah melakukan visum di RSU Sidikalang akibat dugaan tindak kekerasan.
Peristiwa itu baru diketahui Syahdan setelah ia melihat rekaman CCTV di lokasi dagangannya. Dalam rekaman tersebut, tampak sejumlah orang, termasuk seorang anggota polisi, tengah menikmati durian miliknya.
Dalam surat pernyataan bertanggal 27 Desember 2025, Syahdan menegaskan keberatannya atas tindakan tersebut dan menyebut bahwa pihak kepolisian belum memberikan pertolongan maupun penanganan terhadap peristiwa yang dialaminya.
“Oknum polisi yang berada di lokasi memakan durian dagangan milik saya tanpa izin dan tanpa melakukan pembayaran. Namun pihak kepolisian tidak memberikan pertolongan maupun penanganan terhadap kejadian tersebut,” tulis Syahdan dalam surat yang diterima redaksi bersama rekaman CCTV.
Sebagai upaya menjaga keberimbangan informasi, Redaksi Spirit Revolusi pada 30 Desember 2025 menghubungi salah satu anggota polisi yang terlihat dalam rekaman CCTV di lokasi kejadian. Namun, polisi tersebut membantah tudingan yang disampaikan Syahdan.
“Pemilik durian tidak keberatan,” ujarnya saat dikonfirmasi redaksi.
Pernyataan itu justru berlawanan dengan dokumen tertulis yang dikeluarkan oleh Syahdan Sagala, di mana ia secara tegas menyatakan keberatan atas tindakan yang dianggap tidak etis dan tidak mencerminkan tanggung jawab aparat dalam melindungi masyarakat.
Redaksi menilai, ada ironi yang terasa getir dalam kasus ini — durian yang lebih cepat disantap daripada keadilan yang ditegakkan.
Di tengah aroma manis buah durian yang sempat jadi rebutan, rasa pahit justru menyelimuti upaya korban mencari keadilan.
Hingga berita ini diturunkan, Polres Dairi belum memberikan keterangan resmi terkait laporan penganiayaan, Redaksi Spirit Revolusi akan berupaya meminta tanggapan langsung dari pihak Polres Dairi guna memastikan transparansi dan keberimbangan dalam pemberitaan.
Redaksi




