Disiplin Rendah, Nyawa Melayang: Satlantas Fakfak Perketat Razia Helm dan Pengendara Mabuk
Transparansi Tanpa Tawar

FAKFAK – | 30 Januari 2026Tingginya angka kecelakaan lalu lintas di Kabupaten Fakfak kembali menjadi sorotan serius. Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Fakfak menilai rendahnya kepatuhan pengendara terhadap aturan keselamatan menjadi pemicu utama tingginya fatalitas korban di jalan raya.
Kasat Lantas Polres Fakfak, IPDA Bagus Agung, mengungkapkan bahwa sebagian besar korban kecelakaan mengalami luka berat hingga meninggal dunia karena tidak menggunakan helm. Selain itu, kebiasaan berkendara dalam pengaruh minuman keras turut memperparah situasi.
“Kesadaran berlalu lintas masih rendah. Banyak yang merasa aman berkendara jarak dekat tanpa helm. Padahal saat kecelakaan terjadi, dampaknya bisa fatal,” jelasnya.
Razia Ditingkatkan, Tilang Manual Masih Berlaku
Sebagai langkah menekan angka kecelakaan, Satlantas Fakfak terus menggencarkan razia dan patroli rutin. Penindakan tilang di Papua Barat saat ini masih dilakukan secara manual, mengingat sistem tilang elektronik belum berjalan maksimal di seluruh wilayah.
Menurut Kasat Lantas, penegakan hukum bukan tujuan utama, melainkan langkah terakhir untuk menyelamatkan masyarakat dari risiko kecelakaan.
“Lebih baik ditilang daripada kehilangan nyawa di jalan,” tegasnya.
Kasus Kecelakaan Maut Jadi Alarm
Peristiwa kecelakaan pada malam pergantian tahun lalu menjadi contoh nyata. Dua pemuda yang berboncengan meninggal dunia di lokasi kejadian setelah diduga berkendara dalam kondisi mabuk.
Kasus tersebut, kata Bagus Agung, menjadi pengingat bahwa kelalaian sekecil apa pun di jalan raya bisa berujung tragedi.
Edukasi Diperluas ke Sekolah dan Pangkalan Ojek
Selain razia, Satlantas juga memperkuat pendekatan edukatif. Unit Kamsel rutin menyambangi sekolah-sekolah untuk menanamkan kesadaran keselamatan sejak dini.
Meski pelajar belum memenuhi syarat mengemudi, polisi memilih pendekatan persuasif dengan menekankan pentingnya helm sebagai perlindungan dasar.
Pengendara ojek pun tak luput dari perhatian. Polisi kerap mendatangi pangkalan ojek untuk memastikan pengemudi dan penumpang sama-sama menggunakan helm.
“Risiko kecelakaan tidak memilih siapa yang pakai helm dan siapa yang tidak. Semua bisa jadi korban,” ujarnya.
Knalpot Brong Ikut Ditertibkan
Tak hanya soal helm dan alkohol, penggunaan knalpot brong juga menjadi target penertiban. Hingga kini, hampir 100 kendaraan telah ditindak karena dinilai mengganggu kenyamanan dan ketertiban umum.
Tertib Lalu Lintas Butuh Perubahan Budaya
Satlantas menilai persoalan utama bukan sekadar aturan, tetapi budaya berlalu lintas. Kesadaran masyarakat dinilai harus tumbuh dari diri sendiri, bukan karena takut razia.
“Kami ingin masyarakat patuh karena sadar pentingnya keselamatan, bukan karena ada polisi,” tutup Kasat Lantas.
Satlantas Fakfak mengimbau seluruh warga menjadikan helm dan perilaku tertib sebagai kebutuhan, bukan pilihan, demi menekan angka kecelakaan dan menyelamatkan nyawa di jalan raya.
(Ria)




