NEWS

Sampahku Tanggung Jawabku, Ketua PKK Fakfak Dorong Pemilahan Sampah Dimulai dari Rumah

Transparansi Tanpa Tawar

FAKFAK, SPIRITREVOLUSI.ID — Persoalan sampah di Kabupaten Fakfak tidak bisa hanya dibebankan kepada satu instansi. Pengelolaannya membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah daerah, distrik, kampung dan kelurahan, organisasi, hingga keluarga.

Pesan tersebut mengemuka dalam pertemuan yang dihadiri Ketua TP-PKK Kabupaten Fakfak, Ny. Nurwidayati Samaun Dahlan, bersama sejumlah pimpinan perangkat daerah, unsur distrik dan kampung/kelurahan serta pihak perbankan dan undangan lainnya.

Dalam arahannya, Nurwidayati menekankan pentingnya mengubah pola pikir masyarakat dari sekadar “membuang sampah pada tempatnya” menjadi “sampahku, tanggung jawabku.”

Menurutnya, setiap individu merupakan penghasil sampah sehingga tanggung jawab terhadap sampah harus dimulai dari diri sendiri dan lingkungan rumah tangga.

«“Mari kita berkomitmen bahwa yang selama ini membuang sampah pada tempatnya kita ganti menjadi sampahku tanggung jawabku,” tegas Nurwidayati.»

Ia menjelaskan, upaya mewujudkan Fakfak yang bersih tidak mungkin hanya dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup atau OPD tertentu. Diperlukan kekompakan lintas sektor dengan melibatkan distrik, kampung, kelurahan, organisasi serta masyarakat.

Pertemuan tersebut juga membahas tindak lanjut Keputusan Bupati Fakfak Nomor 600.4/306 Tahun 2026 serta pembentukan tim penilaian kebersihan. Agenda kebersihan yang sebelumnya direncanakan dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tetap didorong untuk dilaksanakan meskipun waktunya bergeser.

Nurwidayati menegaskan, tujuan utama kegiatan bukan sekadar membuat lingkungan terlihat bersih, tetapi membangun tata kelola sampah berbasis masyarakat melalui keterlibatan seluruh komponen daerah.

Pemilahan Sampah Harus Dimulai dari Rumah

Salah satu fokus utama yang didorong Ketua TP-PKK Fakfak adalah pemilahan sampah sejak dari sumbernya, terutama rumah tangga.

Sampah plastik, botol, sisa makanan, kertas, karton dan jenis sampah lainnya diharapkan tidak lagi dicampur begitu saja sebelum dibuang.

Dengan pemilahan sejak rumah, volume sampah residu yang akhirnya dibawa ke tempat pembuangan akhir dapat ditekan.

Nurwidayati juga menyinggung dukungan sarana pemilahan sampah yang telah disiapkan Dinas Lingkungan Hidup. Tempat sampah dengan pembagian berdasarkan jenis sampah diharapkan dapat memudahkan masyarakat menerapkan kebiasaan memilah sampah.

Menurutnya, sosialisasi tidak mungkin dilakukan dengan mendatangi setiap rumah satu per satu. Karena itu, peran distrik, kampung, kelurahan, RT/RW dan jaringan PKK menjadi sangat penting untuk menyampaikan edukasi secara langsung kepada masyarakat.

Sampah Bernilai Ekonomi Jangan Dibuang

Nurwidayati juga mendorong agar masyarakat melihat sampah tertentu bukan hanya sebagai limbah, tetapi sebagai sesuatu yang masih mempunyai nilai ekonomi.

Ia menyinggung keberadaan pihak yang bersedia membeli sampah plastik, botol, kertas, karton hingga minyak jelantah.

“Kalau ibu-ibu di rumah sekarang menggoreng, kalau minyaknya sudah hitam dikumpulkan saja. Minyak jelantah sekarang jangan dibuang, itu ada nilainya,” ujarnya.

Menurutnya, pola tersebut dapat memberikan motivasi kepada masyarakat untuk mengumpulkan sampah yang masih mempunyai nilai jual.

Ia juga menanggapi persoalan harga pembelian sampah yang dinilai masih rendah. Karena itu, menurutnya, perlu didiskusikan kemungkinan adanya skema dukungan atau subsidi bagi bank sampah sehingga harga sampah yang dikumpulkan masyarakat dapat lebih menarik.

Dengan adanya nilai ekonomi, masyarakat diharapkan memiliki semangat lebih besar untuk memilah dan mengumpulkan sampah dari rumah.

PKK Didorong Jadi Penggerak Edukasi

Nurwidayati menilai Tim Penggerak PKK mempunyai posisi strategis dalam program pemilahan sampah karena aktivitas pengelolaan sampah rumah tangga sangat dekat dengan peran keluarga, khususnya ibu-ibu.

TP-PKK Kabupaten nantinya diharapkan dapat berkoordinasi dengan PKK distrik maupun kampung untuk memperluas sosial.

(Ria)

Related Articles

Back to top button