Nurwidayati Samaun Dahlan Tegaskan Paradigma Baru Kelola Sampah: “Sampahku, Tanggung Jawabku”
Transparansi Tanpa Tawar

FAKFAK, SPIRITREVOLUSI.ID — Persoalan sampah di Kabupaten Fakfak tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengandalkan petugas kebersihan maupun pemerintah. Perubahan harus dimulai dari sumber utama penghasil sampah, yakni setiap rumah tangga.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Fakfak, Nurwidayati Samaun Dahlan, saat menghadiri kegiatan Launching dan Sosialisasi Implementasi Tata Kelola Sampah Berbasis Masyarakat melalui Strategi Dual Track Ecosystem serta Pelatihan Pembuatan Kompos, Kamis (3/9/2026), di Kantor Kelurahan Fakfak Utara, Jalan Cenderawasih, Fakfak.
Dalam kesempatan tersebut, Nurwidayati mengajak masyarakat, khususnya kaum ibu dan rumah tangga, mengubah pola pikir dalam memperlakukan sampah.
Jika selama ini masyarakat mengenal slogan “Buanglah Sampah pada Tempatnya”, menurutnya sudah saatnya slogan tersebut diperkuat menjadi prinsip yang lebih mendasar, yakni “Sampahku, Tanggung Jawabku.”
“Yang membuat sampah adalah kita sendiri. Setiap orang pasti menghasilkan sampah. Karena itu, kita harus bertanggung jawab terhadap sampah yang kita hasilkan,” tegas Nurwidayati dalam sambutannya.
Menurutnya, rumah tangga merupakan salah satu sumber utama sampah yang setiap hari dihasilkan masyarakat. Karena itu, perubahan paling efektif harus dimulai dari lingkungan keluarga.
Ia pun secara khusus mengajak para ibu rumah tangga untuk mulai melakukan pemilahan sampah dari rumah, sebelum sampah tersebut dibuang atau dibawa ke tempat pengelolaan.
Sampah Jangan Lagi Dicampur
Nurwidayati menekankan, kebiasaan mencampur seluruh jenis sampah harus mulai ditinggalkan.
Sampah plastik, kertas, kardus, kaleng, hingga sisa makanan perlu dipisahkan sejak dari rumah. Dengan pemilahan tersebut, volume sampah yang harus dibuang dapat ditekan sekaligus membuka peluang agar sebagian sampah memiliki nilai ekonomi.
“Kalau kita sudah memilah sampah dari rumah, saya yakin sampah yang kita hasilkan volumenya akan menyusut. Karena ternyata sampah itu bisa menghasilkan uang,” ujarnya.
Ia menyebut berbagai jenis sampah yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata masih memiliki nilai jual, di antaranya botol plastik, kardus, kertas, kaleng minuman, kaleng susu, kaleng rokok hingga jerigen oli.
Masyarakat bahkan diajak untuk tidak membiarkan sampah bernilai ekonomis berserakan di jalan.
“Kalau sekarang ibu-ibu atau bapak-bapak melihat botol-botol plastik di jalan, bisa diambil karena itu menghasilkan uang,” katanya.
Minyak Jelantah Jangan Dibuang Sembarangan
Hal lain yang menjadi perhatian Nurwidayati adalah pengelolaan minyak jelantah dari rumah tangga.
Ia mengimbau masyarakat agar minyak bekas memasak tidak lagi dibuang begitu saja. Minyak jelantah dapat dikumpulkan dan disalurkan melalui pengelolaan bank sampah sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Minyak jelantah yang tadinya dibuang, sekarang dikumpulkan. Ada harganya dan bisa dijual melalui bank sampah,” jelasnya.
Menurut dia, kebiasaan sederhana seperti mengumpulkan minyak jelantah, plastik, kardus dan kertas dapat menjadi bagian dari gerakan ekonomi sekaligus menjaga kebersihan lingkungan.
Sisa Makanan Diubah Menjadi Kompos
Nurwidayati juga mengajak masyarakat tidak langsung membuang sisa makanan dari dapur.
Sisa makanan, menurutnya, dapat dimanfaatkan menjadi kompos. Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan masyarakat di rumah adalah menggunakan biopori, sehingga sisa makanan dapat dimasukkan ke dalam lubang dan dibiarkan terurai secara alami.
“Sayang sekali kalau sisa makanan dari dapur langsung dibuang. Itu bisa kita jadikan kompos,” tuturnya.
Ia berharap langkah sederhana tersebut dapat diterapkan secara luas oleh masyarakat sehingga sampah organik tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan.
Dorong Tempat Sampah di Jalan Baru Puri
Dalam sambutannya, Nurwidayati juga menyoroti kebersihan sejumlah ruang publik, khususnya kawasan Jalan Baru Puri yang kerap menjadi tempat berkumpul anak-anak muda.
Ia mengusulkan agar tempat-tempat sampah dapat disediakan secara memadai di sepanjang kawasan tersebut.
Menurutnya, keberadaan tempat sampah yang mudah dijangkau akan membantu masyarakat, terutama anak-anak muda yang berkumpul, untuk langsung membuang sampah setelah beraktivitas.
“Kalau anak-anak muda nongkrong dan menghasilkan sampah, mereka bisa langsung membuang ke tempat sampah yang sudah disediakan. Sehingga ketika mereka pulang, tidak meninggalkan sampah lagi,” ungkapnya.
Namun, ia kembali mengingatkan bahwa sampah yang masih memiliki nilai ekonomi sebaiknya tidak langsung dibuang. Sampah tersebut dapat dibawa pulang, dipilah dan dikumpulkan untuk kemudian disetorkan ke bank sampah.
Apresiasi Kelurahan Fakfak Utara
Nurwidayati turut memberikan apresiasi kepada masyarakat Kelurahan Fakfak Utara yang telah lebih dahulu menerapkan pemilahan sampah dari rumah.
Ia menilai langkah tersebut menjadi contoh positif bahwa perubahan tata kelola sampah dapat dimulai dari tingkat paling kecil, yakni keluarga dan lingkungan tempat tinggal.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang telah berpartisipasi dalam gerakan pemilahan sampah.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari implementasi Keputusan Bupati Fakfak Nomor 600.4-306 Tahun 2026 tentang Tata Kelola Sampah Berbasis Masyarakat melalui Strategi Dual Track Ecosystem. Pemerintah Kabupaten Fakfak menempatkan Kelurahan Fakfak Utara sebagai langkah awal yang diharapkan dapat direplikasi di kelurahan dan kampung lainnya.
Dalam kegiatan tersebut, Nurwidayati Samaun Dahlan hadir didampingi langsung Ny. Bia Wahlin Rahman, Ketua Persit Kartika Chandra Kirana (KCK) Cabang XIV Kodim 1803/Fakfak.
Dari Rumah, Untuk Fakfak yang Bersih
Bagi Nurwidayati, gerakan pengelolaan sampah bukan semata-mata persoalan kebersihan, tetapi juga menyangkut perubahan perilaku masyarakat.
Ia mengajak seluruh keluarga di Fakfak mengambil bagian dengan memulai dari hal sederhana: memilah sampah dari rumah, mengurangi sampah yang dibuang, memanfaatkan sampah organik menjadi kompos dan mengelola sampah bernilai ekonomi melalui bank sampah.
“Intinya, tujuan kita adalah membuat Kabupaten Fakfak bersih dari sampah dan lebih indah dipandang. Jangan sampai sampah terus menumpuk di setiap sudut kota,” tandasnya.
Dari slogan “Buanglah Sampah pada Tempatnya”, kini Nurwidayati mengajak masyarakat Fakfak melangkah lebih jauh menuju sebuah kesadaran baru:
(Ria)




