Dari Kandang ke Meja Makan, Peternakan Ayam Petelur Samaun Dahlan Produksi 2.860 Butir Telur Sehari
Tranaparanai Tanpa Tawar

Spiritrevolusi.id FAKFAK — Ketahanan pangan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Di Fakfak, upaya memperkuat ketersediaan pangan juga tumbuh dari sektor peternakan, salah satunya melalui pengembangan usaha ayam petelur yang mampu menghasilkan ribuan butir telur setiap hari.
Salah satu usaha tersebut adalah peternakan ayam petelur milik Bupati Fakfak, Samaun Dahlan, yang dilaporkan mampu menghasilkan sekitar 2.860 butir telur per hari.
Produksi tersebut menunjukkan bahwa usaha peternakan unggas memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bagian dari penguatan ekonomi sekaligus mendukung ketersediaan pangan masyarakat di daerah.
Bagi Fakfak, keberadaan usaha ayam petelur memiliki arti strategis. Telur merupakan salah satu sumber protein hewani yang dibutuhkan masyarakat dan menjadi komoditas pangan yang memiliki permintaan rutin.
Pemerintah Kabupaten Fakfak sendiri mencatat bahwa sektor peternakan daerah mencakup pengembangan berbagai jenis ternak, termasuk unggas seperti ayam buras, ayam potong dan ayam petelur. Pengembangan sektor tersebut diarahkan untuk menyediakan pangan hewani berupa daging, susu dan telur sekaligus meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha peternakan.
Produksi Ribuan Butir Setiap Hari
Produksi sekitar 2.860 butir telur per hari jika berlangsung konsisten menunjukkan kapasitas usaha yang tidak kecil.
Angka tersebut setara dengan sekitar 85.800 butir telur dalam 30 hari atau lebih dari 1 juta butir dalam setahun, apabila produksi harian dapat dipertahankan pada tingkat yang sama.
Namun, produksi telur tentu tidak hanya berbicara tentang jumlah. Di balik setiap butir telur terdapat kebutuhan pakan, pemeliharaan ayam, kebersihan kandang, kesehatan ternak, tenaga kerja hingga pengelolaan distribusi hasil produksi.
Karena itu, pengembangan peternakan ayam petelur membutuhkan manajemen yang konsisten agar produktivitas dapat dipertahankan dan usaha tetap berkelanjutan.
Potensi Ekonomi Lokal
Pengembangan peternakan ayam petelur juga membuka ruang bagi tumbuhnya aktivitas ekonomi lain di daerah.
Rantai usaha tersebut dapat melibatkan penyedia pakan, tenaga kerja, jasa transportasi, pedagang hingga pelaku usaha yang memanfaatkan telur sebagai bahan baku.
Dengan demikian, peternakan bukan sekadar aktivitas produksi di dalam kandang, tetapi dapat membentuk mata rantai ekonomi yang memberi manfaat lebih luas.
Kementerian Pertanian pada 2026 juga menempatkan pengembangan ayam petelur sebagai salah satu bagian dari upaya memperkuat produksi telur, meningkatkan asupan protein dan memberikan manfaat ekonomi bagi peternak.
Telur Lokal dan Tantangan Pasar
Produksi telur di daerah juga tidak terlepas dari dinamika pasar. Pemerintah pusat pada 2026 mendorong penguatan penyerapan telur, termasuk melalui pembelian dari peternak lokal, untuk menjaga kesinambungan usaha dan membantu menjaga harga di tingkat peternak.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa peningkatan produksi harus berjalan beriringan dengan kepastian pasar.
Bagi daerah seperti Fakfak, penguatan produksi telur lokal berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah apabila dibarengi dengan pengelolaan usaha, distribusi dan pasar yang baik.
Dari Usaha Pribadi Menjadi Gambaran Potensi Daerah
Peternakan ayam petelur milik Samaun Dahlan dengan produksi sekitar 2.860 butir telur setiap hari memberikan gambaran bahwa sektor peternakan memiliki ruang untuk tumbuh di Fakfak.
Potensi tersebut menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan kebutuhan pangan masyarakat dan agenda memperkuat ekonomi lokal.
Pengembangan peternakan juga sejalan dengan arah pembangunan sektor peternakan Fakfak yang tidak hanya mengejar produksi, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan mutu, keterjangkauan pangan, kesejahteraan peternak dan kesempatan kerja.
Dengan pengelolaan yang baik, kandang ayam tidak lagi sekadar tempat memelihara ternak. Ia dapat menjadi bagian dari rantai ketahanan pangan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
(Ria)




