NEWS

Karas Fakfak Diselimuti Kabut Asap Karhutla, Sekolah Diliburkan hingga Nelayan Hentikan Aktivitas Melaut

Transparansi Tanpa Tawar

SpiritRevolusi.id | FAKFAK — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mulai mengganggu aktivitas masyarakat di Distrik Karas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Kondisi cuaca yang panas dan kering membuat kebakaran meluas di sejumlah kawasan, sementara jarak pandang warga dilaporkan semakin terbatas.

Dampaknya mulai dirasakan langsung masyarakat. Aktivitas belajar mengajar di sejumlah sekolah diliburkan sementara, sedangkan sebagian nelayan memilih tidak melaut karena kondisi perairan yang diselimuti kabut dan jarak pandang yang terbatas.

Kondisi tersebut dilaporkan terjadi di sekitar Kampung Malakuli, yang merupakan pusat pemerintahan Distrik Karas.

Seorang warga Kampung Malakuli, Muhammad Rizal Rumodar, mengatakan kebakaran telah berlangsung sekitar dua pekan terakhir. Api disebut muncul dari kawasan hutan dan kemudian menjalar ke sejumlah area perkebunan masyarakat.

> “Sudah hampir dua minggu ini kebakaran terus-menerus. Api muncul dari dalam hutan dan masyarakat Distrik Karas tidak tahu pasti penyebabnya. Intinya menyebar karena panas dan kondisi kering,” ujar Rizal.

Menurutnya, kebakaran bahkan telah menghanguskan sejumlah tanaman pala serta kebun milik warga.

Kondisi itu membuat sebagian masyarakat mulai melakukan penjagaan secara mandiri untuk mencegah api merembet ke kebun dan permukiman.

“Pohon pala juga terbakar. Kebun-kebun warga ada yang sudah habis. Ada sebagian masyarakat yang mulai berjaga-jaga supaya api tidak kembali membakar kebun,” ungkapnya.

Kemarau Panjang, Warga Mengaku Tiga Bulan Tanpa Hujan

Karhutla terjadi di tengah kondisi kemarau yang disebut warga telah berlangsung cukup panjang.

Rizal mengatakan, masyarakat merasakan kondisi kering sejak Juli hingga September 2026. Bahkan, hujan dengan intensitas ringan sekalipun disebut hampir tidak dirasakan selama periode tersebut.

“Bahkan hujan rintik-rintik pun tidak pernah sama sekali turun. Kering, jalan-jalan berdebu, udara juga jadi tidak segar dan terasa pengap,” katanya.

Meski demikian, warga masih mengandalkan sejumlah sumur yang tersedia di wilayah Distrik Karas untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.

Kondisi atmosfer yang kering dan meningkatnya risiko karhutla juga sejalan dengan pemantauan BMKG. Dalam sejumlah laporan September 2026, BMKG menyebut kondisi atmosfer relatif kering masih mendominasi banyak wilayah Indonesia dan mengingatkan bahwa kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko karhutla serta penyebaran asap.

Kabut Asap Tebal, Pulau Tiga hingga Perbukitan Tak Terlihat Jelas

Selain kebakaran, masyarakat kini harus berhadapan dengan kabut asap yang semakin pekat.

Rizal mengatakan, kondisi tersebut mulai dirasakan sekitar dua pekan terakhir dan semakin mengganggu dalam beberapa hari terakhir.

“Bukit atau Gunung Bay dan Pulau Tiga yang berada di depan Malakuli Karas sudah tidak terlihat. Kabut tebal setiap hari kami lihat dan rasakan di Karas,” tuturnya.

Kabut asap juga dilaporkan menutupi kawasan sekitar Pantai Toran, salah satu destinasi wisata yang berada di wilayah Fakfak.

Menurut Rizal, jarak pandang yang terbatas membuat masyarakat harus lebih berhati-hati ketika melakukan perjalanan, khususnya menuju wilayah perairan.

“Kita kalau ke sana (Pantai Toran) sudah harus pakai GPS karena sudah tidak terlihat, semua kabur,” katanya.

Kondisi kabut asap tidak hanya berdampak terhadap kenyamanan masyarakat. BMKG sebelumnya juga mengingatkan bahwa kabut asap akibat karhutla dapat memengaruhi kualitas udara, kesehatan masyarakat, jarak pandang, hingga aktivitas transportasi di wilayah terdampak.

Sekolah di Karas Diliburkan Sementara

Dampak kabut asap kini mulai merambah sektor pendidikan.

Aktivitas belajar mengajar di sejumlah sekolah di Distrik Karas dilaporkan diliburkan sementara sebagai dampak kondisi kabut asap yang semakin tebal.

Sekolah yang disebut terdampak antara lain SD Negeri Karas, SMP Negeri Karas, dan SMA Karas.

Kebijakan tersebut menjadi perhatian karena anak-anak termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak kualitas udara buruk. BMKG juga sebelumnya mengingatkan bahwa kondisi udara akibat asap perlu diwaspadai, terutama bagi kelompok rentan dan masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.

Nelayan Pilih Tak Melaut

Bukan hanya aktivitas di daratan yang terganggu. Kehidupan nelayan di Distrik Karas juga ikut terdampak.

Seorang nelayan setempat, Ian, mengaku sudah sekitar dua pekan tidak pergi melaut karena kondisi cuaca dan jarak pandang di laut yang menurutnya tidak memungkinkan untuk beraktivitas seperti biasa.

> “Kami sudah tidak pergi melaut lagi karena kondisi seperti ini. Sementara bertahan dulu karena keadaan. Di laut itu kabut, tidak dapat lihat jelas,” ujarnya.

 

Menurut Ian, memaksakan diri melaut dalam kondisi jarak pandang terbatas justru berisiko terhadap keselamatan.

“Kita mau paksa keadaan juga takut ada apa-apa di laut. Jadi memilih di rumah saja, sembari apa yang bisa kita kerjakan, ya kita kerjakan,” katanya.

Bagi nelayan yang menggantungkan penghasilan dari laut, kondisi tersebut menjadi persoalan serius karena aktivitas mencari ikan merupakan sumber penghidupan keluarga.

“Anak-anak sekolah semua. Kalau tidak melaut kita mau harap apa. Jadi semoga cuaca tidak kabur lagi,” harap Ian.

Warga Berharap Hujan Segera Turun

Di tengah kondisi kebakaran yang masih berlangsung, masyarakat berharap hujan segera turun sehingga kebakaran dapat mereda dan kabut asap berangsur hilang.

Warga juga berharap penanganan Karhutla dapat dilakukan secara bersama-sama, terutama pada titik-titik api yang berada dekat dengan kebun masyarakat.

Kondisi di Karas menjadi gambaran bagaimana kemarau panjang dapat berdampak berantai terhadap kehidupan masyarakat—mulai dari kebakaran hutan dan kebun, kualitas udara, jarak pandang, pendidikan, hingga mata pencaharian nelayan.

Sementara itu, BMKG dalam laporan terbarunya pada September 2026 masih mencatat kondisi kering di sejumlah wilayah Indonesia dan menyebut potensi karhutla serta sebaran asap masih menjadi perhatian.

Kini masyarakat Karas berharap hujan segera turun, api dapat dikendalikan, kabut asap menghilang, dan aktivitas warga—termasuk sekolah serta kegiatan melaut—dapat kembali normal.

(Ria)

Related Articles

Back to top button