NEWSUncategorized

Dugaan Laporan Palsu Mencuat, Syahdan Sagala: Pelapor Datang Menyerang ke Rumah

Transparansi Tanpa Tawar

Dairi – Dugaan adanya laporan palsu dalam perkara dugaan penganiayaan di Kabupaten Dairi semakin menguat. Tabir kasus perlahan terbuka usai pemeriksaan Syahdan Sagala dan putrinya Dwi Putri Sagala di Polres Dairi dengan status sebagai terlapor.

Usai menjalani pemeriksaan, Syahdan Sagala secara terbuka menyampaikan kepada awak media di depan Mapolres Dairi bahwa keterangan yang disampaikannya kepada penyidik sama persis dengan pernyataan yang selama ini ia ungkapkan kepada media.

“Saya sudah jelaskan secara rinci kepada penyidik. Kronologinya sama seperti yang saya sampaikan ke media,” ujar Syahdan.

Syahdan menegaskan bahwa tidak pernah terjadi penganiayaan secara bersama-sama antara dirinya dan anaknya terhadap pelapor. Justru, menurutnya, Nuridah Puspita Pasi bersama beberapa orang datang ke rumahnya dan melakukan penyerangan.

“Pelapor datang ke rumah saya bersama beberapa orang, termasuk Pungut Kudadiri dan kawan-kawan. Mereka menyerang anak saya. Saya berusaha melerai,” jelasnya.

Syahdan mengungkapkan, saat berupaya melerai, dirinya justru ditarik oleh pelapor, sehingga ia mengayunkan tubuh ke belakang semata-mata untuk menahan diri dari tarikan tersebut.

“Kalau mereka mengatakan saya menendang, itu hak mereka bicara. Tapi secara logika, mana ada orang menendang ke belakang? Menendang itu biasanya ke depan. Itu aneh,” tegasnya.

Lebih lanjut, Syahdan menjelaskan bahwa dalam insiden tersebut, dirinya dipukul menggunakan kursi, hingga terjatuh, tergeletak, dan mengalami pusing. Ironisnya, setelah jatuh, ia justru kembali mendapat pukulan dari pihak yang kemudian melaporkannya ke polisi.

“Nanti akan saya serahkan rekaman CCTV sebagai bukti,” ucap Syahdan.

Pernyataan senada juga disampaikan oleh Dwi Putri Sagala, anak perempuan Syahdan. Ia membantah keras tudingan bahwa dirinya melakukan pemukulan terhadap pelapor.

“Apa yang disampaikan pelapor itu tidak benar. Saat itu justru rambut saya dijambak, saya didorong hingga posisi saya membungkuk. Saya hanya menggerakkan tangan ke belakang untuk menghentikan aksi brutal tersebut,” ungkap Dwi.

Namun, lanjutnya, tindakan membela diri tersebut justru ditafsirkan sebagai pemukulan oleh pelapor.

“Pernyataan saya di depan media ini sama persis dengan keterangan saya saat diperiksa penyidik,” tegasnya.

Dengan adanya kesesuaian keterangan antara dua terlapor tersebut, laporan yang dibuat oleh Nuridah Puspita Pasi dinilai berpotensi menjadi senjata makan tuan dan mengarah pada dugaan laporan palsu serta pemberian keterangan palsu kepada aparat penegak hukum, meskipun pelaporan merupakan hak setiap warga negara.

Redaksi media SpritRevolusi.id mendesak Polres Dairi agar menunjukkan keseriusan dan profesionalisme dengan membuka fakta yang sebenarnya secara transparan. Pasalnya, perkara ini dinilai berpotensi melebar, terutama terkait lambannya penanganan laporan yang sebelumnya diajukan oleh Syahdan Sagala, yang disebut-sebut mengendap di meja Polres Dairi.

Selain itu, Redaksi juga menyoroti adanya surat pernyataan dan keterangan Syahdan Sagala terkait dugaan peristiwa lain, yakni soal “durian yang dimakan aparat tanpa izin dan tanpa ucapan terima kasih kepada pemiliknya”, yang hingga kini juga belum mendapatkan kejelasan hukum.

“Kami meminta Polres Dairi menunjukkan taringnya dan membuktikan bahwa hukum ditegakkan tanpa tebang pilih,” tegas Redaksi

(SpritRevolusi.id Perwakilan Sumatera Utara.)

Related Articles

Back to top button