Uncategorized

DARI SAMPAH JADI BIBIT PALA! DINAS PERKEBUNAN FAKFAK SIAP SERAP KOMPOS LOKAL, TEKAN KETERGANTUNGAN DARI LUAR DAERAH

Transparansi Tanpa Tawar

FAKFAK, SPIRITREVOLUSI.ID — Persoalan sampah tidak lagi cukup diselesaikan hanya dengan mengangkut dan membuang. Di Kabupaten Fakfak, sampah mulai didorong menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi dan dapat mendukung sektor produktif, termasuk pengembangan komoditas unggulan Pala Tomandin.

Komitmen tersebut ditegaskan Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, S.T., M.T., dalam kegiatan yang membahas penguatan program pengurangan dan pengolahan sampah melalui kolaborasi lintas sektor.

Dalam kesempatan itu, Widhi menyampaikan bahwa Dinas Perkebunan memiliki posisi strategis sebagai salah satu pihak yang dapat memanfaatkan hasil pengolahan sampah organik, khususnya kompos, untuk mendukung kebutuhan penangkaran bibit pala.

Menurutnya, persoalan sampah, terutama sampah plastik, merupakan tantangan serius yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Karena itu, pemerintah daerah perlu membangun sistem yang tidak hanya berorientasi pada pengurangan sampah, tetapi juga menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Sekarang kita harus mulai mengarah kepada ekonomi sirkular. Kalau ekonomi linier, kita mengambil bahan, memproduksi, memakai, lalu membuang. Tetapi ekonomi sirkular, sisa-sisa pemanfaatan kita olah kembali sehingga bisa memberikan manfaat,” ujar Widhi dalam sambutannya.

9 TON KOMPOS DIBUTUHKAN UNTUK PENANGKARAN BIBIT PALA

Potensi pemanfaatan kompos lokal semakin terlihat seiring dengan besarnya kebutuhan pengembangan bibit Pala Tomandin di Fakfak.

Widhi menjelaskan, selama ini Dinas Perkebunan memiliki tiga penangkar yang secara keseluruhan mampu memproduksi sekitar 80.000 bibit pala per tahun.

Namun, kebutuhan tahun 2026 meningkat tajam seiring adanya program pengembangan perkebunan pala seluas 1.000 hektare yang mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Fakfak.

Jika sebelumnya pengembangan yang dilakukan berada di kisaran 50 hektare per tahun, tahun ini cakupannya meningkat menjadi 1.000 hektare. Kondisi tersebut otomatis meningkatkan kebutuhan bibit.

“Untuk 1.000 hektare, kebutuhan bibit sekitar 120.000. Satu polibag membutuhkan sekitar 250 gram media, dan sekitar 30 persen dari komposisi tersebut harus menggunakan pupuk dasar atau kompos,” jelasnya.

Dengan kebutuhan tersebut, diperkirakan diperlukan sekitar 9 ton kompos untuk mendukung proses pembibitan 120.000 bibit pala.

Besarnya kebutuhan ini sekaligus menunjukkan bahwa pengolahan sampah organik di Fakfak memiliki pasar yang jelas apabila diarahkan menjadi kompos berkualitas.

IRONIS, KOMPOS DIDATANGKAN DARI SURABAYA

Widhi mengungkapkan fakta yang menurutnya menjadi perhatian serius. Kebutuhan kompos untuk pembibitan pala selama ini masih didatangkan dari luar daerah, bahkan dari Surabaya.

Ia mencontohkan kegiatan produksi media tanam yang berlangsung di kawasan Kayu Merah. Kegiatan tersebut bahkan telah membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat, dengan sekitar 100 orang terlibat dalam proses pengisian tanah dan kompos ke dalam polibag.

Namun, di sisi lain, kompos yang digunakan justru didatangkan dari Surabaya dengan nilai pengadaan yang disebut mencapai hampir Rp500 juta.

Padahal, bahan baku kompos tersebut pada dasarnya berasal dari material yang sangat mungkin tersedia di Fakfak, seperti sisa ranting kayu dan sisa makanan yang dapat diolah melalui sistem pengomposan.

“Bisa dibayangkan, hampir Rp500 juta anggaran dikeluarkan untuk mendatangkan kompos dari Surabaya. Padahal bahan-bahan untuk membuat kompos itu sebenarnya ada di daerah kita,” tegasnya.

Kondisi ini, kata Widhi, harus menjadi momentum untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi. Sampah organik tidak boleh lagi hanya dipandang sebagai limbah, tetapi harus diubah menjadi bahan yang bernilai dan dapat memenuhi kebutuhan sektor lain.

DINAS PERKEBUNAN SIAP MENJADI PENGGUNA KOMPOS HASIL OLAHAN SAMPAH

Sebagai bentuk komitmen konkret, Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak menyatakan siap memanfaatkan kompos hasil pengolahan sampah organik yang dikembangkan melalui program pengurangan sampah oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Fakfak sebagai leading sector.

Dinas Perkebunan juga menyampaikan langkah awal berupa rencana pengadaan 300 sak kompos untuk mendukung kebutuhan pembibitan.

Komitmen ini diharapkan menjadi titik awal terciptanya hubungan yang saling menguntungkan antara pengelolaan lingkungan dan pengembangan perkebunan.

Sampah organik dikumpulkan dan diolah menjadi kompos. Kompos kemudian dimanfaatkan untuk media tanam bibit Pala Tomandin. Bibit yang berkualitas selanjutnya dikembangkan menjadi tanaman pala produktif yang memberikan manfaat ekonomi bagi petani.

“Ini bukan hanya soal menyediakan pupuk. Tetapi bagaimana sampah organik yang sebelumnya menjadi persoalan dapat kita ubah menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi pengembangan perkebunan,” kata Widhi.

LIBATKAN PERBANKAN DAN CSR

Widhi juga mendorong keterlibatan pihak perbankan dan dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR untuk mendukung pengembangan sistem pengomposan di Fakfak.

Menurutnya, keberhasilan program tersebut tidak dapat hanya dibebankan kepada satu dinas. Dibutuhkan komitmen pemerintah daerah, perangkat daerah, masyarakat, komunitas, perbankan, dunia usaha serta seluruh pemangku kepentingan.

Ia mencontohkan dukungan perbankan dalam pengelolaan bantuan dan insentif bagi petani. Salah satu perbankan yang disebut terlibat adalah Bank Papua.

Widhi menyebut pada tahun ini terdapat sekitar Rp4,8 miliar dana masyarakat yang masuk dalam pengelolaan melalui perbankan tersebut, yang menunjukkan pentingnya peran lembaga keuangan dalam mendukung ekosistem ekonomi masyarakat.

Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk tidak melihat persoalan sampah sebagai tanggung jawab Dinas Lingkungan Hidup semata.

“Bantulah pemerintah daerah. Ini bukan hanya urusan Dinas Lingkungan Hidup. Kita harus bersama-sama menyelesaikan persoalan ini,” tegasnya.

DARI SAMPAH, MENJADI KOMPOS; DARI KOMPOS, MENJADI BIBIT

Kolaborasi antara Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Perkebunan tersebut diarahkan untuk membangun sebuah ekosistem ekonomi sirkular di Kabupaten Fakfak.

Dinas Lingkungan Hidup menjadi leading sector dalam pengurangan dan pengolahan sampah, sementara Dinas Perkebunan menjadi salah satu pengguna hasil pengolahan berupa kompos untuk mendukung penangkaran bibit pala.

Dengan pola tersebut, sampah organik yang selama ini berpotensi menjadi beban lingkungan dapat memiliki nilai ekonomi baru.

“Kita ingin membangun sebuah ekosistem yang saling terhubung. Sampah organik dikelola menjadi kompos, kemudian kompos dimanfaatkan untuk penangkaran bibit Pala Tomandin. Dari sini kita mendapatkan dua manfaat sekaligus: sampah berkurang dan kebutuhan perkebunan terpenuhi,” ungkap Widhi.

Menurutnya, langkah tersebut juga sejalan dengan upaya memperkuat Pala Tomandin sebagai komoditas unggulan Fakfak, mulai dari penyediaan benih dan bibit berkualitas, pengembangan penangkaran, peningkatan produktivitas kebun hingga penguatan hilirisasi.

KOMITMEN PALA TOMANDIN DAN LINGKUNGAN BERKELANJUTAN

Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak menegaskan komitmennya untuk memanfaatkan kompos hasil pengolahan sampah organik sebagai bagian dari dukungan terhadap pengembangan penangkaran Pala Tomandin.

Komitmen tersebut bukan sekadar seremonial, tetapi diarahkan menjadi kerja nyata yang menghubungkan persoalan lingkungan dengan kebutuhan pembangunan ekonomi daerah.

Jika kebutuhan kompos yang selama ini didatangkan dari luar daerah dapat dipenuhi dari produksi lokal, maka manfaatnya akan berlapis. Sampah organik berkurang, biaya pengadaan dari luar daerah dapat ditekan, lapangan kerja baru dapat tumbuh, dan sektor perkebunan memperoleh bahan baku yang dibutuhkan.

Lebih jauh lagi, rantai tersebut dapat membentuk siklus ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Dari sampah menjadi kompos. Dari kompos menjadi bibit. Dari bibit menjadi kebun pala produktif. Dari kebun pala menjadi sumber pendapatan dan kesejahteraan masyarakat Fakfak.

“Ini adalah bentuk kolaborasi lintas sektor yang harus terus kita dorong. Semangatnya adalah mengubah masalah menjadi peluang,” pungkas Widhi Asmoro Jati.

Dengan komitmen tersebut, program pengurangan sampah di Fakfak tidak berhenti pada persoalan kebersihan lingkungan. Program ini mulai diarahkan menjadi bagian dari strategi pembangunan ekonomi sirkular yang terhubung langsung dengan komoditas unggulan daerah: Pala Tomandin Fakfak.

(Ria)

Related Articles

Back to top button