Uncategorized

Pulang dari Lemhannas, Bupati Samaun Dahlan Bawa Misi Besar untuk Fakfak: Infrastruktur, SDM dan Ekonomi Rakyat Jadi Prioritas

Transparansi Tanpa Tawar

JAKARTA, SPIRITREVOLUSI.ID — Kursus Pemantapan Pimpinan Daerah (KPPD) Angkatan IV Tahun 2026 di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) telah berakhir. Namun bagi Bupati Fakfak, Samaun Dahlan, penutupan kegiatan tersebut bukanlah akhir dari proses pembelajaran, melainkan awal untuk menerjemahkan wawasan strategis menjadi kebijakan nyata di Kabupaten Fakfak.

KPPD yang berlangsung selama sembilan hari itu resmi ditutup Gubernur Lemhannas RI, TB Ace Hasan Syadzily, di Gedung Lemhannas RI, Jakarta, Jumat (11/9/2026).

Bagi Samaun Dahlan, keikutsertaannya dalam forum strategis tersebut menjadi kesempatan penting untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan sekaligus mempertajam kemampuan manajerial dalam mengelola pemerintahan daerah.

Ia menilai, tantangan pembangunan daerah saat ini tidak dapat dijawab hanya dengan rutinitas birokrasi. Kepala daerah harus mampu membaca perubahan, memahami arah kebijakan nasional, serta memastikan setiap program daerah memiliki keterkaitan yang jelas dengan kepentingan masyarakat.

“Alhamdulillah saya berkesempatan mengikuti pelatihan di Lemhannas RI. Tujuannya untuk menggembleng kapasitas pimpinan daerah agar memiliki ketahanan strategis dan ketajaman manajerial,” ujar Samaun Dahlan.

Dari Lemhannas untuk Fakfak

Salah satu pesan penting yang dibawa Bupati Fakfak dari KPPD adalah pentingnya menyelaraskan pembangunan daerah dengan agenda pembangunan nasional.

Menurut Samaun, pemerintah daerah tidak boleh berjalan dengan programnya sendiri tanpa melihat arah pembangunan nasional. Sinkronisasi diperlukan agar kebijakan yang dibuat di tingkat kabupaten dapat memiliki daya ungkit lebih besar dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

“Selain itu, ini juga bagian dari sinkronisasi pembangunan daerah dan nasional. Bagi kami di Pemerintahan Kabupaten Fakfak, penyelarasan ini krusial agar setiap program kerja daerah tidak berjalan sendiri,” jelasnya.

Pandangan tersebut menjadi penting bagi Fakfak yang memiliki wilayah luas dengan karakter geografis, sosial dan ekonomi yang beragam.

Karena itu, pembangunan tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan, tetapi harus memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat hingga ke wilayah-wilayah yang selama ini menghadapi keterbatasan akses.

Tiga Pilar yang Jadi Perhatian

Samaun menyebut sedikitnya tiga sektor yang menjadi perhatian utama dalam menjawab tantangan pembangunan Fakfak, yakni infrastruktur, sumber daya manusia dan ekonomi kerakyatan.

Infrastruktur menjadi fondasi karena konektivitas antarkawasan akan menentukan seberapa cepat masyarakat memperoleh akses terhadap pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan maupun kegiatan ekonomi.

Di sisi lain, pembangunan infrastruktur tanpa peningkatan kualitas manusia juga dinilai belum cukup.

Karena itu, penguatan sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam agenda pembangunan Fakfak. Pendidikan, peningkatan kapasitas masyarakat serta penciptaan generasi yang mampu beradaptasi dengan perubahan menjadi investasi jangka panjang bagi daerah.

Pilar ketiga adalah ekonomi kerakyatan.

Pembangunan, kata Samaun, harus mampu membuka ruang yang lebih besar bagi masyarakat untuk tumbuh dan mandiri secara ekonomi. Potensi lokal harus dikembangkan agar tidak berhenti sebagai sumber daya, tetapi mampu menciptakan nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Tiga sektor tersebut menjadi bagian dari arah pembangunan yang ingin diperkuat Pemerintah Kabupaten Fakfak setelah Bupati mengikuti pembekalan di Lemhannas.

Pesan Lemhannas: Kepala Daerah Harus Berpikir Strategis

Sementara itu, Gubernur Lemhannas RI TB Ace Hasan Syadzily dalam penutupan KPPD menegaskan bahwa ketahanan daerah merupakan bagian integral dari ketahanan nasional.

Para kepala daerah tidak hanya dituntut mampu mengelola pemerintahan dari perspektif lokal, tetapi juga harus memahami posisi daerah sebagai bagian dari sistem nasional serta dinamika lingkungan strategis global.

Selama mengikuti KPPD, para peserta mendapatkan berbagai pembekalan, mulai dari wawasan kebangsaan, ketahanan nasional, kepemimpinan hingga kemampuan teknokratik dalam pelayanan publik.

Materi teknokratik juga diberikan secara daring oleh Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore. Para peserta kemudian menjalani praktik lapangan di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Dalam Negeri RI.

KPPD Angkatan IV tersebut diikuti 23 kepala daerah, terdiri dari 18 bupati dan lima wali kota dari berbagai wilayah di Indonesia.

Ace Hasan berharap para kepala daerah yang mengikuti program tersebut mampu menjadi pemimpin yang memiliki karakter negarawan, berpikir global, namun tetap memiliki karakter kebangsaan yang kuat.

Menurutnya, daerah harus mampu berkembang menjadi lebih maju, modern dan inovatif serta memiliki daya saing global tanpa kehilangan jati diri sebagai bagian dari Indonesia.

Kini Tantangannya Ada di Fakfak

Bagi Fakfak, nilai terpenting dari KPPD bukan sekadar sertifikat atau pengalaman mengikuti pendidikan kepemimpinan di tingkat nasional.

Tantangan sebenarnya justru berada setelah kegiatan tersebut berakhir.

Pembekalan di Lemhannas harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang dapat dirasakan masyarakat. Infrastruktur harus benar-benar membuka akses. Peningkatan SDM harus menghasilkan masyarakat yang lebih berdaya saing. Sementara penguatan ekonomi kerakyatan harus mampu membuka kesempatan usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Samaun berharap pengalaman dan berbagai pembekalan yang diperolehnya dapat memperkuat kualitas kepemimpinan serta kebijakan Pemerintah Kabupaten Fakfak.

“Tujuannya menghadirkan kebijakan publik yang memberikan manfaat nyata, berkelanjutan, dan merata bagi masyarakat di seluruh penjuru Kabupaten Fakfak,” harapnya.

Dengan demikian, penutupan KPPD Lemhannas bukan sekadar seremoni berakhirnya sebuah pendidikan kepemimpinan.

Bagi Bupati Samaun Dahlan, momentum tersebut menjadi titik awal untuk membawa perspektif yang lebih luas ke dalam pembangunan Fakfak—membangun daerah dengan perencanaan yang lebih strategis, pemerintahan yang lebih efektif, serta kebijakan yang pada akhirnya harus kembali kepada satu tujuan utama: meningkatkan kesejahteraan masyarakat Fakfak secara nyata dan merata.

SPIRITREVOLUSI.ID.

Related Articles

Back to top button