Kasus Gangguan Pernapasan Melonjak, Dinkes Fakfak Catat 553 Kasus Dampak Asap Karhutla
Transparansi Tanpa Tawar

SpiritRevolusi.id | FAKFAK — Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu penurunan kualitas udara dan berpotensi meningkatkan gangguan kesehatan, khususnya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Berdasarkan data surveilans Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak pada minggu ke-34 hingga minggu ke-37 tahun 2026, tercatat 553 kasus ISPA. Angka tersebut menunjukkan kecenderungan peningkatan kasus dari pekan ke pekan seiring kondisi asap karhutla yang berdampak pada kualitas udara di sejumlah wilayah.
Rinciannya, pada minggu ke-34 tercatat 96 kasus, kemudian meningkat menjadi 119 kasus pada minggu ke-35. Selanjutnya, pada minggu ke-36 jumlah kasus kembali naik menjadi 160 kasus, dan mencapai 178 kasus pada minggu ke-37.
Data tersebut menjadi perhatian serius karena kondisi udara yang menurun, terutama akibat tingginya paparan partikulat halus PM2.5, dapat meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan.
Asap Karhutla Berpotensi Picu Gangguan Kesehatan
Dalam situasi darurat asap karhutla, Dinkes Fakfak mencatat sejumlah kondisi yang perlu diwaspadai masyarakat, mulai dari kualitas udara yang menurun, penyebaran asap di wilayah Fakfak hingga berkurangnya jarak pandang yang berpotensi meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
Beberapa gejala yang dilaporkan antara lain batuk, pilek, sesak napas, iritasi mata dan tenggorokan, sakit kepala hingga pusing.
Kelompok masyarakat yang dinilai lebih rentan terhadap dampak asap meliputi anak-anak, lanjut usia (lansia), ibu hamil, penderita asma, petugas yang bekerja di lapangan serta masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir.
Dinkes Siapkan Jalur Penanganan Kesehatan
Mengantisipasi peningkatan kasus, Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak menyiapkan jalur pelayanan melalui Health Emergency Operations Center (HEOC) bersama Tim Krisis Klaster Kesehatan dan Emergency Medical Team (EMT).
Mekanisme pelayanan dimulai dari laporan masyarakat mengenai gejala ISPA atau kondisi asap karhutla, yang kemudian diterima dan dikoordinasikan melalui HEOC Dinkes Fakfak.
Selanjutnya dilakukan triase oleh Klaster Kesehatan untuk menilai risiko dan kondisi pasien. Penanganan awal dilakukan melalui EMT dan puskesmas, sementara pasien dengan kondisi berat akan mendapatkan rujukan ke RSUD Fakfak.
Skema ini disiapkan agar laporan dan kasus kesehatan yang muncul akibat kondisi asap dapat ditangani secara cepat, terkoordinasi dan sesuai tingkat kegawatannya.
Masyarakat Diminta Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan
Dinkes Fakfak juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan perlindungan diri selama kondisi asap masih terjadi.
Masyarakat dianjurkan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan, terutama saat kualitas udara memburuk. Aktivitas di luar ruangan juga sebaiknya dihindari ketika asap sedang tebal.
Bagi masyarakat yang mengalami sesak napas atau keluhan kesehatan lainnya, Dinkes mengimbau agar segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Peningkatan dari 96 kasus pada minggu ke-34 menjadi 178 kasus pada minggu ke-37 menjadi sinyal penting bahwa kewaspadaan terhadap dampak asap karhutla di Fakfak perlu terus ditingkatkan.
Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak mengajak masyarakat tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan dan bersama-sama menjaga kesehatan selama kondisi darurat asap berlangsung.
Sumber: Surveilans Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak, Minggu ke-37 Tahun 2026.
(Ria)




