DI TENGAH KETERBATASAN ANGGARAN, DINAS PARIWISATA DIDUGA AMBURKAN UANG NEGARA — “PERAHU NAGA JADI SAKSI BISU” KESIA-SIAN RP 149,85 JUTA!
Transparansi Tanpa Tawar

DAIRI, 9 September 2026 — Di tengah keterbatasan anggaran yang kerap menjadi alasan untuk menunda berbagai program pembangunan dan pelayanan publik, muncul dugaan serius pemborosan uang negara di lingkungan Pemerintah Kabupaten Dairi, khususnya di Dinas Pariwisata. Pengadaan dua unit Perahu Naga dengan biaya mencapai Rp 149.850.000 yang dicairkan pada akhir tahun 2025, hingga kini justru menjadi saksi bisu bagaimana anggaran rakyat dapat dihamburkan tanpa perencanaan dan peruntukan yang jelas.
BACA : BERDASARKAN INFORMASI YANG DIPEROLEH: Dana BOS SMAN 1 Sumbul Jadi Sorotan Serius
Dari dokumen Belanja Modal dan Persediaan Tahun Anggaran 2025, tercatat jelas bahwa dana sebesar Rp 149.850.000 telah dikeluarkan untuk pembelian dua unit Perahu Naga pada tanggal 31 Desember 2025. Namun ketika tim investigasi Spirit Revolusi turun langsung ke lapangan, kenyataan yang ditemukan sungguh memprihatinkan. Satu unit perahu naga hanya terparkir diam di area parkir Dinas Pariwisata Kabupaten Dairi, Sidikalang. Tidak di danau, tidak di sungai, melainkan di atas aspal, jauh dari perairan mana pun. Sejak dibeli hingga saat ini, hampir sembilan bulan berlalu, perahu itu tidak pernah digunakan untuk kegiatan olahraga, tidak pernah diluncurkan di air, dan tidak pernah menjadi atraksi wisata bagi masyarakat. Ia hanya berdiri diam, terpapar panas matahari dan hujan, seolah-olah benda mati yang tak memiliki fungsi. Sementara itu, satu unit lainnya sama sekali tidak ditemukan keberadaannya. Dua unit dibayarkan, namun hanya satu yang terlihat, dan satu lagi entah ke mana perginya tanpa ada pihak yang mampu menjelaskan.
Kondisi ini semakin memicu kemarahan masyarakat, mengingat selama ini berbagai kegiatan pembangunan dan pelayanan publik sering kali tertunda dengan alasan keterbatasan anggaran. Namun untuk pengadaan yang tidak jelas peruntukannya, dana sebesar hampir 150 juta rupiah justru dapat dikeluarkan dengan mudah di hari-hari terakhir tahun anggaran. Hal ini menimbulkan dugaan kuat bahwa anggaran tersebut sekadar dihamburkan untuk menghabiskan sisa dana, bukan untuk tujuan yang benar-benar bermanfaat bagi daerah dan masyarakat.
Perahu naga yang seharusnya menjadi aset berharga untuk pengembangan pariwisata dan kegiatan olahraga air, kini justru menjadi bukti nyata pemborosan dan ketidakpedulian terhadap uang rakyat. Ia menjadi saksi bisu di tengah parkiran kantor, diam tanpa suara, namun menyuarakan satu pertanyaan besar: mengapa uang rakyat yang susah payah dikumpulkan justru dihabiskan untuk hal yang tidak berguna, sementara kebutuhan mendesak masyarakat sering kali diabaikan dengan alasan tidak ada biaya?
Masyarakat mempertanyakan, di mana perencanaan yang matang sebelum anggaran diputuskan? Mengapa pengadaan dilakukan tanpa mengetahui lokasi penggunaannya, tanpa jadwal kegiatan, dan tanpa rencana pemanfaatan yang jelas? Mengapa tidak ada papan informasi proyek yang wajib dipasang agar masyarakat mengetahui rincian biaya, spesifikasi, dan penyedia barang tersebut? Semua ketidaktahuan ini semakin memperkuat dugaan bahwa pengadaan ini tidak lebih dari sekadar membuang uang negara tanpa pertanggungjawaban yang jelas.
“Di tengah kesulitan anggaran yang selalu dijadikan alasan untuk menunda pembangunan, justru di saat yang sama uang hampir 150 juta rupiah dihamburkan begitu saja untuk barang yang tidak jelas gunanya. Perahu itu kini jadi saksi bisu di parkiran. Tidak dipakai, tidak berguna, dan satu lagi hilang entah ke mana. Rakyat bertanya-tanya: di mana keadilannya? Di mana tanggung jawab pengelola anggaran? Jika memang tidak tahu mau dipakai di mana, mengapa harus dibeli? Jangan sampai uang rakyat yang seharusnya bermanfaat justru dijadikan sarana menghabiskan anggaran tanpa hasil apa pun,” ungkap salah satu warga yang menyayangkan kondisi tersebut.
BACA : DI NEGERI YANG SAMA: KEJARI DAIRI TERBUKA, PEMKAB DAIRI BELUM MERESPONS
Spirit Revolusi menegaskan, perahu naga yang menjadi saksi bisu di parkiran Dinas Pariwisata itu bukan sekadar benda mati. Ia adalah bukti nyata bagaimana anggaran negara dapat disia-siakan jika tidak diawasi dengan ketat. Oleh karena itu, masyarakat menuntut penjelasan resmi dan terbuka dari Pemerintah Kabupaten Dairi serta Dinas Pariwisata terkait perihal ini. Keberadaan perahu yang kedua harus segera ditunjukkan lengkap dengan bukti serah terimanya. Rencana pemanfaatan kedua perahu tersebut harus dijelaskan secara rinci dan jelas kapan serta di mana akan digunakan. Jika tidak ada rencana yang masuk akal dan bermanfaat, maka seluruh anggaran tersebut harus dikembalikan ke kas negara. Selain itu, seluruh informasi terkait pengadaan ini mulai dari spesifikasi, harga, nama penyedia barang, hingga proses pemilihannya harus dipublikasikan secara terbuka sesuai ketentuan yang berlaku.
Jika dalam waktu dekat tidak ada penjelasan yang memuaskan dan bukti yang nyata dapat ditunjukkan, Spirit Revolusi tidak akan tinggal diam. Kasus ini akan dilaporkan kepada aparat penegak hukum untuk ditindaklanjuti secara hukum, mengingat adanya dugaan kerugian negara dan penyalahgunaan wewenang dalam pengelolaan anggaran daerah.
Pewarta : Jembri Padang.




