
DAIRI SPIRITREVOLUSI.ID — 21 September 2026 Di Kabupaten Dairi baru saja terlihat sebuah perbandingan yang sangat menarik, sekaligus mengundang banyak pertanyaan. Dua lembaga yang sama-sama bergerak di ruang publik, sama-sama melayani masyarakat, dan sama-sama menjadi sorotan — namun cara mereka merespons pertanyaan dari rakyat sungguh bagai langit dan bumi. Satu pihak menyambut dengan meja terbuka, pihak lain menutup pintu sambil melapor ke kepolisian. Inilah kisah nyata keterbukaan yang terjadi di depan mata kita.
BRI Cabang Sidikalang memberikan teladan yang patut dicatat dan diapresiasi. Ketika muncul pertanyaan dari warga yang disampaikan melalui jalur media, pihak bank tidak menganggap itu sebagai gangguan, tidak merasa terhina, dan tidak menuduh siapa pun berniat buruk. Sebaliknya, mereka justru datang sendiri ke kantor Spirit Revolusi Media Nusantara, duduk bersama perwakilan media, dan menyampaikan penjelasan secara utuh, tenang, dan terbuka. Tidak ada yang ditutup-tutupi, tidak ada jawaban berputar-putar, tidak ada ancaman laporan ke mana-mana. Lebih dari itu, hasil penjelasan tersebut pun disampaikan secara tertulis kepada narasumber pemberitaan sebelumnya, agar informasi sampai lengkap, tidak terpotong, dan tidak menimbulkan asumsi yang tidak perlu. Langkah ini sederhana saja, namun menunjukkan kedewasaan, kepercayaan diri, dan pemahaman yang benar tentang arti keterbukaan. Inilah wujud nyata lembaga yang tahu bahwa ia dikelola dengan benar — sehingga tidak ada yang perlu ditakutkan dari pertanyaan masyarakat.
Namun di tempat yang sama, di wilayah Kabupaten Dairi pula, terlihat pemandangan yang sungguh berbeda. Ketika Yayasan Kisah Nyata menjadi sorotan sejumlah media, pemerhati sosial, maupun kalangan mahasiswa — pertanyaan yang wajar diajukan justru dijawab dengan langkah yang jauh dari kata terbuka. Alih-alih duduk bersama, menjelaskan data, menyajikan laporan, dan meyakinkan publik bahwa segala sesuatu berjalan sesuai aturan — yang muncul malah laporan ke kepolisian dengan dalil pencemaran nama baik. Seolah-olah bertanya saja sudah merupakan kesalahan yang harus dihukum, seolah-olah masyarakat tidak berhak tahu ke mana perginya anggaran yang dikelola atas nama kepentingan bersama.
Perlu kita ingat bersama dengan tenang dan jernih: setiap badan yang mengelola uang milik rakyat, termasuk yayasan yang menaungi program Dapur MBG, memikul kewajiban moral sekaligus hukum untuk menjelaskan secara terbuka. Uang itu bukan milik pribadi, bukan pemberian perorangan, melainkan milik seluruh masyarakat yang berhak mengetahui peruntukannya, jumlahnya, dan pertanggungjawabannya. Undang-undang tidak mewajibkan rakyat diam, undang-undang justru mewajibkan pengelola menjelaskan. Menghindar bukan jawaban. Menutup pertanyaan dengan laporan ke aparat hukum justru memunculkan pertanyaan baru yang jauh lebih besar: apa yang sebenarnya disembunyikan? Mengapa data tidak ditampilkan? Mengapa pertanyaan wajar dianggap sebagai serangan?
Kami tidak menuduh siapa pun. Kami tidak mengatakan ada penyimpangan, tidak menuduh ada kerugian, dan tidak memvonis siapa pun bersalah. Yang kami sampaikan hanyalah hal yang paling logis: jika pengelolaan sudah berjalan benar, jika catatan sudah rapi, jika aturan sudah dipatuhi — maka penjelasan adalah hal yang paling mudah dilakukan. Tunjukkan buktinya, sajikan datanya, ajak masyarakat melihat kenyataannya. Keraguan akan hilang dengan sendirinya. Nama baik tidak dipertahankan dengan melarang orang bertanya, nama baik dipertahankan dengan membuktikan bahwa semuanya benar.
Sebaliknya, jika pertanyaan dijawab dengan tuduhan, jika permintaan data dijawab dengan ancaman, jika setiap kali ada yang bertanya justru semakin tertutup — maka wajar jika masyarakat mulai berasumsi. Dugaan lahir bukan karena orang jahat, dugaan lahir karena tidak ada jawaban yang mengisi ruang kosong. Dan jika dalam kondisi demikian belum mampu menjelaskan sesuai ketentuan undang-undang, mungkin langkah yang paling bijak dan terhormat adalah menata kembali semuanya secara teratur, bukan memaksakan diri bertahan sambil menutup pintu bagi siapa saja yang ingin mengetahui kebenaran.
BRI sudah membuktikan: terbuka itu tidak menakutkan, justru melegakan semua pihak. Maka pertanyaan kami sampaikan dengan tenang, tanpa kemarahan, namun sungguh-sungguh: siapa sebenarnya yang takut?
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada klarifikasi atau penjelasan resmi dari pihak terkait. Redaksi tetap membuka ruang bagi pihak terkait untuk menyampaikan klarifikasi dan hak jawab guna memberikan informasi yang berimbang kepada masyarakat.
Pewarta: Jembri Padang.




