PASCA GEMPA M7,7 MBAY–NAGEKEO, WARGA WOTOK MENUNGGU BANTUAN DAN PEMERINTAH HADIR
Transparansi Tanpa Tawar

Manggarai, NTT. – Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur. Berdasarkan data resmi BMKG, episentrum gempa berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer, pada koordinat 8,41° LS dan 121,39° BT. Sabtu (15/8/2026)
Gempa tersebut bukan sekadar angka pada layar seismograf. Bagi masyarakat Flores, guncangan itu adalah kepanikan. Suara rumah yang bergetar, keluarga yang berhamburan keluar mencari tempat amam, anak-anak yang menangis dan orang tua yang tidak tahu harus membawa apa ketika meninggalkan rumah dan setelah bumi berhenti berguncang, perjuangan belum berakhir.
Di Dusun Wotok, Desa Riung, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, warga terdampak masih bertahan di posko darurat. Mereka menunggu bantuan dan kepastian pemerintah datang melihat kondisi mereka secara langsung
Menurut kesaksian warga, kendaraan bantuan bahkan disebut telah melintas di jalan yang berada di sekitar mereka. Namun warga di posko mengaku bantuan tersebut belum mereka terima
BACA : MERAH PUTIH BERKIBAR DI MIS ALHIDAYA SITINJO, RAYAKAN HUT RI KE-81 DENGAN KHIDMAT
“Truk bantuan lewat di depan mata kami. Mereka lewat di depan jalan kami tapi tidak melihat kami. Gempa yang sama meruntuhkan rumah kami, tapi kenapa bantuan tidak pernah sampai ke tempat yang katanya tidak ada yang ditinggalkan?” ujar Siska Linung, warga Wotok. Selasa (18/8/2026)
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi di baliknya ada suara seorang warga yang sedang menunggu agar dilihat, didengar dan menunggu agar penderitaannya tidak dianggap sebagai angka semata
Gempa tidak berhenti dan rasa takut selalu menghantui
Sebelumnya BMKG mencatat bahwa gempa M7,7 tersebut memicu peringatan dini tsunami. Pengamatan muka air laut kemudian mendeteksi gelombang tsunami di sejumlah lokasi, termasuk Maurole Ende 0,94 meter, Labuan Bajo 0,36 meter, Pelabuhan Kewapante-Sikka 0,38 meter, Flores Timur 0,25 meter, Dompu 0,17 meter, dan Bakalang-Alor 0,14 meter
Dalam pemodelan BMKG Manggarai bagian utara dan Ngada bagian utara termasuk wilayah yang berpotensi tsunami dengan status siaga pada saat peringatan tersebut
Bagi masyarakat di wilayah terdampak, ancaman tidak berhenti ketika peringatan tsunami berakhir. Rumah tempat teduh yang paling aman sekarang menjadi rumah yang penuh dengan rasa takut
Karena itu, masyarakat membutuhkan kehadiran pemerintah untuk memastikan bahwa seluruh warga terdampak, termasuk masyarakat Kampung Wotok, mendapatkan pendataan dan bantuan berdasarkan kondisi nyata di lapangan
Bantuan kemanusiaan tidak boleh berhenti hanya karena sebuah kampung sulit dijangkau, banyak keluarga yang kehilangan rumah tetapi jangan sampai kehilangan akses terhadap pertolongan
Bencana tidak memilih korban. Maka bantuan pun tidak boleh memilih korban. Pemerintah memastikan setiap laporan masyarakat mengenai bantuan yang belum diterima segera diverifikasi dan ditindaklanjuti
MEREKA TIDAK MEMINTA KEISTIMEWAAN
Warga Kampung Wotok tidak sedang meminta perlakuan khusus. Mereka hanya meminta hak yang sama. Hak untuk dilihat, didengar dan mendapatkan pertolongan ketika menjadi korban bencana
Di posko darurat, mungkin tidak ada kamera,
tidak ada panggung, tidak ada pejabat yang berdiri di depan mereka tetapi di sana ada manusia. Ibu, anak, orang tua, dan keluarga yang rumahnya tidak lagi memberi rasa nyaman
BACA : KAJARI KARAWANG BACAKAN PEMBUKAAN UUD 1945 PADA UPACARA HUT KE81 KEMERDEKAAN RI
Sebab ukuran keberhasilan penanganan bencana bukan hanya seberapa cepat pemerintah mengeluarkan pernyataan.
Bukan hanya berapa banyak truk bantuan yang diberangkatkan. Tetapi yang paling penting adalah bantuan itu benar-benar sampai kepada orang yang membutuhkan
WOTOK MEMANGGIL
Hari ini warga Wotok sedang menunggu.
Bukan untuk dikasihani. Mereka menunggu untuk dipedulikan
Gempa M7,7 telah mengingatkan kita bahwa alam tidak pernah memilih siapa yang akan terdampak. Maka pemerintah pun tidak boleh memilih siapa yang akan diperhatikan karena di balik setiap tenda ada keluarga.
(Alfred Ten)




