Reses DPRK Fakfak Dibanjiri Keluhan Warga, Abdul Rahman Pastikan Perjuangkan Jalan, Rumah Guru, hingga Perbaikan Sekolah di Sifat Nanam
Transparansi Tanpa Tawar

SPIRITREVOLUSI.ID | FAKFAK – Pelaksanaan Reses Kedua Masa Sidang II Tahun 2026 di Daerah Pemilihan (Dapil) II yang meliputi Distrik Pariwari, Distrik Fakfak Barat, dan Distrik Wartutin menjadi momentum penting bagi Wakil Ketua DPRK Kabupaten Fakfak, Abdul Rahman, S.P., untuk menyerap langsung berbagai aspirasi masyarakat.Rabu 8/7/2026
Salah satu titik reses berlangsung di Kampung Sifat Nanam, Distrik Wartutin. Dalam dialog bersama pemerintah kampung, tokoh masyarakat, guru, dan warga, persoalan infrastruktur jalan serta kondisi pendidikan menjadi keluhan utama yang paling banyak disampaikan.
Abdul Rahman menegaskan bahwa akses jalan menuju kampung yang rusak parah telah lama menjadi hambatan bagi aktivitas masyarakat maupun pelayanan dasar pemerintah. Menurutnya, persoalan tersebut harus segera menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Fakfak karena menyangkut mobilitas warga, pelayanan pendidikan, kesehatan, hingga perekonomian masyarakat.
Selain persoalan jalan, kondisi SD YPPK Santo Martinus Sifat Nanam juga menjadi perhatian khusus. Berdasarkan hasil dialog dengan para guru dan hasil peninjauan lapangan, sekolah tersebut masih menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari kerusakan ruang belajar, minimnya fasilitas belajar, hingga belum tersedianya rumah dinas guru.
Abdul Rahman mengatakan bahwa pendidikan merupakan salah satu program prioritas Pemerintah Kabupaten Fakfak. Namun menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak cukup hanya diukur dari program sekolah gratis ataupun pembagian seragam, melainkan juga harus ditunjang oleh infrastruktur sekolah yang layak.
“Kita tidak boleh hanya melihat pendidikan gratis dari sisi seragam saja. Gedung sekolah, ruang kelas, rumah guru, meja, kursi, dan seluruh sarana belajar juga harus menjadi perhatian pemerintah,” tegasnya.
Dari informasi yang diterima, sekolah tersebut memiliki sekitar 70 siswa dengan 10 tenaga pendidik, terdiri atas empat guru berstatus ASN dan enam guru honorer. Sebagian besar guru telah berkeluarga sehingga kesulitan untuk menetap dan mengajar secara maksimal karena belum tersedia rumah dinas, sementara akses menuju kampung juga cukup berat.
Sebagai solusi, Abdul Rahman mendorong Dinas Pendidikan Kabupaten Fakfak agar memasukkan pembangunan dua kopel rumah guru dalam perencanaan anggaran mendatang. Menurutnya, keberadaan rumah guru sangat penting agar proses belajar mengajar dapat berlangsung lebih efektif dan berkelanjutan.
Ia juga meminta pemerintah memberikan perhatian kepada para guru honorer yang telah mengabdi selama belasan tahun. Menurutnya, pengabdian mereka patut mendapat penghargaan melalui kebijakan pengangkatan ASN apabila formasi tersedia.
Selain itu, keterbatasan mebel sekolah juga menjadi sorotan. Dalam beberapa kesempatan ujian, satu meja bahkan harus digunakan hingga tiga siswa secara bersamaan karena jumlah meja dan kursi yang tidak mencukupi. Kondisi tersebut dinilai sangat memprihatinkan dan tidak sejalan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan.
Abdul Rahman menegaskan seluruh aspirasi masyarakat yang diperoleh selama reses akan dibawa dan diperjuangkan dalam pembahasan bersama Pemerintah Kabupaten Fakfak agar dapat menjadi prioritas pembangunan pada tahun anggaran berikutnya.
“Seluruh aspirasi masyarakat akan kami kawal. Jalan, pendidikan, rumah guru, ruang kelas, hingga fasilitas belajar merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi demi masa depan anak-anak Fakfak,” tegasnya.
Melalui reses ini, DPRK Kabupaten Fakfak berharap komunikasi antara masyarakat dan pemerintah semakin kuat sehingga pembangunan benar-benar menjawab kebutuhan riil masyarakat, khususnya di wilayah-wilayah terpencil yang masih membutuhkan perhatian serius pemerintah.
(Ria)




