Putus Rantai Penularan dari Ibu ke Bayi, Dinkes Fakfak Perkuat Program Triple Eliminasi HIV, Sifilis dan Hepatitis B
Transparansi Tanpa Tawar

SpiritRevolusi.id | FAKFAK — Upaya memutus rantai penularan HIV, sifilis, dan hepatitis B dari ibu kepada anak diperkuat Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak melalui kegiatan On The Job Training (OJT) dan Validasi Data Program Triple Eliminasi.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 1–2 Oktober 2026, di Rumah Makan Family, Jalan Izak Telussa, Fakfak, tersebut menjadi bagian dari langkah Dinkes Fakfak meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan sekaligus memperkuat kualitas data dan pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Kegiatan dimulai pukul 08.30 hingga 17.00 WIT dan melibatkan 35 peserta yang berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak, RSUD Kabupaten Fakfak, Klinik Pratama Fatima serta sejumlah puskesmas di wilayah Kabupaten Fakfak.
Peserta terdiri atas penanggung jawab Program Hepatitis, dokter, bidan Triple Eliminasi serta tenaga kesehatan terkait.
Bukan Sekadar Pemeriksaan
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak, dr. Maulana Karjadi Patiran, M.MKes, dalam sambutannya menegaskan bahwa Triple Eliminasi merupakan salah satu upaya penting dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak dengan tujuan utama memutus rantai penularan HIV, sifilis, dan hepatitis B dari ibu kepada anak.
Menurutnya, ketiga penyakit tersebut memiliki karakteristik berbeda, tetapi
WAmempunyai persoalan yang sama, yakni dapat ditularkan dari ibu kepada anak selama masa kehamilan, persalinan maupun dalam kondisi tertentu setelah bayi dilahirkan.
Karena itu, Triple Eliminasi tidak boleh dipahami hanya sebagai kegiatan pemeriksaan terhadap ibu hamil.
“Triple Eliminasi bukan sekadar melakukan tiga pemeriksaan kemudian selesai,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam sambutan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak.
Ia menekankan pentingnya membangun continuum of care, mulai dari ibu hamil datang ke fasilitas kesehatan, menjalani skrining, mendapatkan tindak lanjut atas hasil pemeriksaan, memperoleh terapi atau intervensi yang sesuai, hingga persiapan persalinan dan pemantauan ibu serta bayi setelah persalinan.
Hasil Positif Harus Ditindaklanjuti
Dinkes Fakfak menilai keberhasilan program tidak cukup diukur dari banyaknya ibu hamil yang menjalani pemeriksaan.
Yang lebih penting adalah memastikan setiap hasil pemeriksaan, khususnya hasil positif, mendapatkan tindak lanjut dan pelayanan sesuai kebutuhan.
“Target kita bukan sekadar berapa banyak ibu yang diperiksa. Target kita adalah memastikan bahwa setiap hasil positif ditindaklanjuti, setiap ibu mendapatkan pelayanan yang dibutuhkan, dan setiap bayi mendapatkan kesempatan terbaik untuk lahir tanpa tertular HIV, sifilis maupun hepatitis B dari ibunya,” tegas Kepala Dinkes dalam sambutannya.
Dalam konteks HIV, penularan dari ibu kepada anak dapat terjadi selama kehamilan, persalinan maupun melalui ASI. Namun, dengan skrining sedini mungkin, terapi antiretroviral yang tepat dan teratur, tata laksana ibu yang baik, serta profilaksis dan pemantauan terhadap bayi, risiko penularan dapat ditekan secara bermakna.
Sementara itu, sifilis yang disebabkan bakteri Treponema pallidum dapat menular dari ibu kepada janin melalui plasenta. Jika tidak ditemukan dan ditangani, infeksi tersebut dapat berdampak serius terhadap kehamilan dan bayi.
Sedangkan hepatitis B menjadi perhatian khusus karena penularan dari ibu kepada bayi dapat terjadi pada masa perinatal. Infeksi yang terjadi pada periode tersebut memiliki risiko lebih tinggi berkembang menjadi infeksi kronis yang dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan hati, termasuk sirosis dan kanker hati.
Perkuat Deteksi Dini Hepatitis B
Salah satu fokus kegiatan OJT adalah meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam pengelolaan Program Hepatitis sekaligus memperkuat deteksi dini Hepatitis B pada ibu hamil.
Langkah tersebut penting untuk membantu memutus rantai penularan dari ibu kepada bayi.
Dalam materi program juga dibahas upaya pencegahan penularan Hepatitis B melalui pemberian HB0 dan HBIg kepada bayi baru lahir kurang dari 24 jam, serta profilaksis Tenofovir bagi ibu hamil pada usia kehamilan 28 minggu sesuai ketentuan dan materi program yang menjadi acuan kegiatan.
Selain Hepatitis B, kegiatan juga memberikan pemahaman mengenai Hepatitis C serta jenis hepatitis lainnya sebagai bagian dari penguatan pengetahuan tenaga kesehatan mengenai penyakit yang menyerang organ hati.
35 Tenaga Kesehatan Ikuti OJT
Kegiatan OJT Triple Eliminasi dirancang tidak hanya untuk meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membangun kesamaan pemahaman dan standar pelayanan di antara tenaga kesehatan.
Materi pada hari pertama mencakup kebijakan dan situasi Program Triple Eliminasi HIV, Sifilis dan Hepatitis pada ibu hamil di Kabupaten Fakfak, kebijakan program nasional, stigma dan diskriminasi, pencegahan dan pengendalian infeksi, tata laksana Hepatitis B dan C, kebijakan antenatal care (ANC), serta tata laksana ibu bersalin dan nifas yang terinfeksi HIV, sifilis dan Hepatitis B.
Sementara hari kedua diarahkan pada manajemen logistik, sosialisasi Catpor/SIHEPI serta validasi data Triple Eliminasi pada ibu hamil.
Validasi data menjadi bagian penting karena data yang akurat diperlukan untuk mendukung pengelolaan program, perencanaan pelayanan, serta memastikan intervensi kesehatan diberikan sesuai sasaran.
Data Akurat, Pelayanan Lebih Terarah
Dinkes Fakfak menempatkan penguatan pencatatan dan pelaporan sebagai salah satu bagian penting dalam keberlanjutan program.
Dalam pelaksanaan kegiatan, peserta diminta membawa register Hepatitis, sifilis dan HIV pada ibu hamil serta laptop untuk mendukung proses validasi data.
Melalui kegiatan tersebut, Dinkes Fakfak menargetkan tersedianya tenaga kesehatan yang memiliki kapasitas memadai dalam pelaksanaan Program Triple Eliminasi serta tersedianya data yang lebih adekuat untuk mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Kolaborasi Jadi Kunci
Kepala Dinkes Fakfak juga menekankan bahwa keberhasilan Triple Eliminasi tidak dapat dibebankan kepada satu profesi maupun satu fasilitas kesehatan.
Diperlukan kolaborasi antara Dinas Kesehatan, rumah sakit, puskesmas, dokter, bidan, perawat, tenaga laboratorium, tenaga farmasi, pengelola program serta seluruh jejaring pelayanan kesehatan.
Kondisi geografis Kabupaten Fakfak dengan tantangan akses pelayanan kesehatan juga menjadi perhatian. Sistem pelayanan diharapkan mampu menjangkau bukan hanya fasilitas kesehatan yang mudah diakses, tetapi juga wilayah yang membutuhkan perhatian lebih.
Karena itu, melalui OJT tersebut, Dinkes Fakfak mendorong adanya kesamaan standar pelayanan, alur rujukan yang jelas, pencatatan dan pelaporan yang baik serta koordinasi yang semakin kuat antara puskesmas, rumah sakit dan Dinas Kesehatan.
Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum memperkuat komitmen bersama agar upaya Triple Eliminasi di Kabupaten Fakfak tidak berhenti pada skrining, tetapi berlanjut hingga tindak lanjut dan pemantauan ibu serta bayi.
Dengan penguatan kapasitas tenaga kesehatan, validasi data dan koordinasi lintas fasilitas pelayanan, Dinkes Fakfak mendorong agar perlindungan terhadap ibu dan bayi semakin optimal serta upaya memutus penularan HIV, sifilis dan Hepatitis B dari ibu ke anak dapat dilakukan secara berkelanjutan.
SpiritRevolusi.id — Fakfak



