Reses di Kampung Terpencil, Abdul Rahman Serap Jeritan Warga: Jalan Rusak, Guru Minim, Pustu Tanpa Tenaga Medis Jadi Sorotan
Transparansi Tanpa Tawar

SPIRITREVOLUSI.ID | FAKFAK – Wakil Ketua DPRK Kabupaten Fakfak, Abdul Rahman, S.P., kembali melaksanakan Reses Kedua Masa Sidang II Tahun 2026 di Daerah Pemilihan (Dapil) II yang meliputi Distrik Pariwari, Distrik Fakfak Barat, dan Distrik Wartutin.
Kunjungan reses tersebut menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyampaikan berbagai persoalan yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah. Aspirasi yang mengemuka didominasi oleh kebutuhan dasar masyarakat, mulai dari infrastruktur jalan, pendidikan, hingga pelayanan kesehatan.
Dalam sambutannya, Abdul Rahman menegaskan bahwa reses merupakan amanat undang-undang sekaligus tanggung jawab moral setiap anggota DPRK untuk turun langsung mendengar suara rakyat. Ia menekankan bahwa seluruh aspirasi yang disampaikan masyarakat akan diperjuangkan melalui mekanisme pembahasan di DPRK agar dapat masuk dalam program prioritas pemerintah daerah.
Salah satu persoalan yang paling banyak dikeluhkan warga adalah kondisi akses jalan menuju kampung yang masih sangat memprihatinkan. Saat musim ombak besar maupun cuaca buruk, aktivitas masyarakat menjadi terganggu sehingga distribusi kebutuhan pokok, hasil kebun, hingga mobilitas warga menjadi sangat sulit.
“Jalan merupakan urat nadi kehidupan masyarakat. Jika akses masih terputus atau rusak, maka roda ekonomi, pendidikan, dan pelayanan kesehatan ikut terhambat,” ungkap Abdul Rahman di hadapan masyarakat.
Di sektor pendidikan, warga meminta perhatian serius terhadap keberlangsungan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang selama ini masih dikelola secara swadaya oleh gereja dan pemerintah kampung dengan fasilitas yang sangat terbatas. Selain PAUD, kondisi Sekolah Dasar (SD) juga dinilai membutuhkan perhatian, terutama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), penyediaan sarana belajar yang memadai, hingga penambahan tenaga pendidik.
Keluhan lainnya adalah minimnya rumah dinas guru. Saat ini hanya tersedia dua kopel rumah guru, sementara jumlah tenaga pengajar yang bertugas masih membutuhkan dukungan tempat tinggal yang layak agar proses belajar mengajar dapat berjalan maksimal.
Tak hanya pendidikan, pelayanan kesehatan juga menjadi perhatian masyarakat. Warga menyampaikan bahwa bangunan Puskesmas Pembantu (Pustu) di dua kampung sebenarnya telah berdiri dengan kondisi yang baik. Namun, hingga kini fasilitas tersebut belum berfungsi optimal karena tidak tersedia tenaga kesehatan yang bertugas secara tetap.
Akibatnya, masyarakat masih harus menempuh perjalanan jauh untuk memperoleh pelayanan medis, terutama ketika terjadi keadaan darurat maupun kebutuhan pemeriksaan kesehatan sehari-hari.
Menanggapi seluruh aspirasi tersebut, Abdul Rahman menegaskan komitmennya untuk membawa seluruh usulan masyarakat ke dalam pembahasan DPRK melalui pokok-pokok pikiran (Pokir) dewan serta mendorong Pemerintah Kabupaten Fakfak agar memberikan perhatian yang lebih serius terhadap pembangunan wilayah-wilayah pesisir dan kampung terpencil.
Menurutnya, pemerataan pembangunan tidak boleh hanya terpusat di kawasan perkotaan. Infrastruktur jalan, pendidikan yang layak, serta pelayanan kesehatan yang berkualitas merupakan hak seluruh masyarakat tanpa memandang letak geografis.
“Kami hadir bukan sekadar memenuhi agenda reses, tetapi ingin mendengar langsung suara masyarakat. Semua aspirasi ini akan kami perjuangkan agar dapat diwujudkan melalui kebijakan dan program pembangunan daerah,” tegas Abdul Rahman.
Reses tersebut berlangsung penuh keakraban dan dihadiri aparat kampung, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, serta warga dari berbagai kampung di wilayah Dapil II. Masyarakat berharap hasil reses kali ini benar-benar ditindaklanjuti sehingga persoalan yang selama bertahun-tahun mereka hadapi dapat segera memperoleh solusi nyata dari pemerintah daerah.
(Ria)




