NEWS

Rawat Tradisi, Jaga Alam : Pemberdayaan Perempuan Oinbit Dorong Produksi Tenun Timor Ramah Lingkungan

Transparansi Tanpa Tawar

Timor Tengah Utara, NTT– Kelompok tenun masyarakat Desa Oinbit mendapat edukasi dan pendampingan dalam mengembangkan produksi kain tenun Timor yang berkelanjutan dan ramah lingkungan melalui kegiatan sosialisasi dan demonstrasi bertema “Pemberdayaan Wanita Penenun Desa Oinbit dalam Produksi Kain Tenun Timor yang Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan.” Senin (14/9/2026)

Kegiatan tersebut dilakukan secara langsung oleh tim dosen Universitas Timor (Unimor) yang diketuai Marselina Th. Djue Tea, S.Pd., M.Si., bersama anggota tim, yakni Elisabeth Korbafo, S.Pd., M.Si., Noviana M. Obenu, S.Si., M.Si., Eduardus Edi, S.Pd., M.Si., Faustinus Kadha, S.P., M.Si., serta Dr. Yohana Ivana Kedang, S.Pd., M.Si.

Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan perempuan penenun Desa Oinbit dalam memanfaatkan potensi sumber daya alam di lingkungan sekitar sebagai bahan pewarna alami.

Dalam sosialisasi tersebut, para peserta diperkenalkan dengan tiga bahan utama pewarna alami, yaitu daun jati, kulit batang pohon mangga, dan kunyit. Ketiga bahan tersebut dipilih karena relatif mudah diperoleh di lingkungan sekitar serta memiliki potensi menghasilkan warna khas pada benang tenun.

Daun jati dapat menghasilkan warna bernuansa merah kecokelatan hingga cokelat. Sementara itu, kulit batang pohon mangga berpotensi menghasilkan warna kuning kecokelatan atau cokelat, sedangkan kunyit menghasilkan warna kuning yang kuat dan khas.

Tidak hanya mengenal bahan pewarna, para peserta juga mendapatkan demonstrasi mengenai penggunaan tawas, tunjung, dan kapur sebagai bahan mordan untuk membantu proses pengikatan warna pada serat. Penggunaan mordan yang berbeda dapat memberikan respons warna yang beragam sehingga membuka peluang bagi para penenun untuk menciptakan variasi warna pada kain tenun.

Ketua Rumah Tenun Latere Oinbit, Anela O. Neonbeni, mengatakan bahwa pemanfaatan bahan alam sebagai pewarna memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan produk tenun yang tetap mempertahankan karakter lokal sekaligus memperhatikan aspek lingkungan.

“Pemanfaatan bahan alam sebagai pewarna memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan produk tenun yang tetap mempertahankan karakter lokal sekaligus memperhatikan aspek lingkungan. Pengetahuan ini diharapkan dapat menjadi keterampilan yang terus dikembangkan oleh kelompok tenun,” ujar Anela

Proses demonstrasi dilakukan secara bertahap, mulai dari persiapan bahan pewarna, proses ekstraksi, persiapan benang, pencelupan, hingga pemberian mordan. Seluruh tahapan tersebut dipandu langsung oleh Marselina Th. Djue Tea bersama seluruh anggota tim.

Para penenun juga diajak mengamati perubahan warna benang setelah mendapatkan perlakuan pewarna dan mordan yang berbeda. Hal tersebut memberikan pengalaman langsung kepada peserta mengenai bagaimana bahan-bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan dalam proses produksi tenun.

Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Para penenun tidak hanya mengikuti demonstrasi, tetapi juga aktif berdiskusi mengenai berbagai bahan yang tersedia di lingkungan sekitar serta kemungkinan penerapannya dalam produksi kain tenun Timor.

BACA : MBG untuk Daerah Terpencil, Terluar dan Termiskin Harus Diutamakan, Bukan Hanya Berpusat di Kota Besar 

Kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan alternatif pengetahuan dan keterampilan bagi perempuan penenun Desa Oinbit dalam mengembangkan produk tenun berbasis bahan alam.

Pemanfaatan pewarna alami juga diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah produk tenun sekaligus mendorong praktik produksi yang lebih memperhatikan kelestarian lingkungan.

Lebih jauh, pemberdayaan ini diharapkan dapat memperkuat peran perempuan penenun sebagai pelaku penting dalam pelestarian budaya sekaligus pengembangan ekonomi masyarakat. Inovasi pewarnaan alami dapat dipadukan dengan motif dan teknik tradisional sehingga menghasilkan kain tenun Timor yang tetap memiliki identitas budaya, namun mampu mengikuti perkembangan kebutuhan produksi yang lebih berkelanjutan.

Melalui kegiatan sosialisasi dan demonstrasi tersebut, kelompok tenun Desa Oinbit diharapkan semakin percaya diri dalam mengembangkan teknik pewarnaan alami serta memanfaatkan sumber daya lokal secara bijaksana

Dengan demikian, tenun Timor tidak hanya tetap hidup sebagai warisan budaya, tetapi juga dapat terus berkembang sebagai produk kerajinan yang memiliki nilai ekonomi, mempertahankan identitas lokal, dan semakin ramah terhadap lingkungan.

(Alfred Ten)

Related Articles

Back to top button