Kadis Disdikpora Fakfak Sidak Asrama Mahasiswa: Bogor Representatif, Jogja Butuh Rehabilitasi Total 2026
Transparansi Tanpa Tawar

SpiritRevolusi.id | Fakfak, 4 Maret 2026 — Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Fakfak, Saleh Hindom, melakukan inspeksi langsung ke sejumlah asrama mahasiswa Papua di luar daerah. Kunjungan ini dilaksanakan usai agenda konsultasi di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi serta koordinasi formasi di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta.
Peninjauan difokuskan pada dua lokasi utama, yakni asrama mahasiswa di Bogor dan Yogyakarta, guna memastikan kondisi hunian sekaligus menyerap aspirasi mahasiswa secara langsung.
Bogor Masih Representatif
Dalam kunjungan yang dilakukan pada Sabtu, kondisi asrama mahasiswa di Bogor dinilai masih cukup baik. Bangunan yang dikontrakkan oleh Pemerintah Kabupaten Fakfak tersebut dinyatakan layak huni dan mendukung aktivitas perkuliahan.
“Secara fisik bangunan masih bagus, lingkungan memadai, dan akses ke kampus relatif terjangkau. Ini cukup menunjang kenyamanan mahasiswa,” ujar Saleh.
Fasilitas yang tersedia juga dinilai masih representatif sebagai tempat tinggal mahasiswa perantauan, meski tetap membutuhkan pengawasan dan perawatan rutin.
Yogyakarta Rusak Berat, Tak Lagi Layak
Berbeda dengan Bogor, hasil peninjauan di Yogyakarta pada Minggu menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Bangunan asrama mengalami kerusakan berat dan dinilai tidak lagi layak ditempati.
“Kondisinya rusak berat dan membutuhkan perhatian serius. Demi keselamatan dan kenyamanan mahasiswa, rehabilitasi menyeluruh menjadi kebutuhan mendesak,” tegasnya.
Ia menilai, bangunan tersebut tidak memungkinkan untuk tetap digunakan sembari menunggu proses perbaikan.
Rehabilitasi Dialokasikan Tahun 2026
Dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Tahun 2026, Disdikpora Fakfak telah mengalokasikan anggaran untuk pembangunan atau rehabilitasi satu unit asrama mahasiswa di Yogyakarta.
Namun, melihat tingkat kerusakan yang ada saat ini, Pemda perlu mempertimbangkan langkah penanganan sementara agar mahasiswa tetap mendapatkan hunian yang aman sebelum rehabilitasi direalisasikan.
15–16 Asrama Lain Segera Ditinjau
Selain dua lokasi tersebut, masih terdapat sekitar 15 hingga 16 asrama mahasiswa Papua di berbagai kota yang akan dijadwalkan untuk ditinjau secara bertahap.
“Saya optimistis seluruh asrama bisa kami kunjungi dalam waktu dekat. Dari hasil evaluasi lapangan, kita dapat menyusun langkah strategis yang tepat sasaran,” ungkapnya.
Langkah ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam memastikan mahasiswa Papua di luar daerah memperoleh hunian yang aman, sehat, dan layak selama menempuh pendidikan.
Aspirasi Mahasiswa: Hunian, Beasiswa, dan Uang Saku Afirmasi
Dalam dialog bersama mahasiswa, sejumlah aspirasi turut mengemuka. Di antaranya peningkatan fasilitas asrama, keberlanjutan program bantuan pendidikan “Seribu Mahasiswa”, hingga kepastian kebijakan terkait uang saku mahasiswa afirmasi yang dikabarkan berpotensi ditiadakan pada 2026.
Mahasiswa berharap dukungan finansial tetap diberikan agar proses studi tidak terhambat.
Menanggapi hal tersebut, Saleh menegaskan pihaknya akan melakukan kajian dan koordinasi lebih lanjut agar dukungan terhadap mahasiswa tetap menjadi prioritas.
“Kehadiran kami untuk memastikan mahasiswa Fakfak di luar daerah tetap mendapat perhatian penuh. Pendidikan adalah investasi jangka panjang bagi kemajuan daerah,” pungkasnya.
Melalui peninjauan langsung ini, kebijakan yang akan diambil diharapkan benar-benar berbasis kondisi riil di lapangan serta mampu menjawab kebutuhan mahasiswa secara konkret dan berkelanjutan.
(Ria)




