Guru PAUD di Kampung Wammar Digaji Rp200 Ribu, Kehadiran Bunda PAUD Fakfak Jadi Setitik Harapan
Transparansi Tanpa Tawar

Spiritrevolusi.id | Fakfak, Jumat 15 Mei 2026 — Suasana haru dan penuh harapan mewarnai kunjungan Bunda PAUD Kabupaten Fakfak, Nurwidayati Samaun Dahlan, ke TK PAUD Mutiara Harapan Tomage di Kampung Wammar. Di balik keterbatasan fasilitas dan minimnya perhatian, para guru PAUD di kampung itu tetap bertahan mengabdi demi masa depan anak-anak Papua.
Kunjungan tersebut turut didampingi Langsung dari Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak sebagai bentuk dukungan lintas sektor terhadap pendidikan anak usia dini di wilayah kampung.
Kepala Sekolah TK PAUD Mutiara Harapan Tomage, Endang Widtiyatik, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian yang diberikan. Menurutnya, selama ini baru pertama kali ada kunjungan langsung dari pimpinan daerah untuk melihat kondisi PAUD di Kampung Wammar.
“Terima kasih banyak ibu sudah mau datang melihat keadaan PAUD kami walaupun kondisinya seperti ini. Kami sangat senang dan terharu, karena selama ini baru kali ini ada perhatian langsung kepada kami,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Endang juga menyoroti beratnya perjuangan guru PAUD di kampung yang hingga kini masih menerima honor sekitar Rp200 ribu per bulan. Nilai tersebut dinilai jauh dari layak dibanding pengabdian yang mereka jalani setiap hari demi mendidik anak-anak usia dini.
“Menjadi guru PAUD itu tidak gampang dan tidak semudah yang dibayangkan. Dengan honor hanya Rp200 ribu, kadang orang lebih memilih bekerja di perusahaan sawit daripada bertahan mengajar. Tapi kami tetap bertahan karena ini panggilan hati,” tuturnya.
Saat ini, TK PAUD Mutiara Harapan Tomage memiliki sekitar 43 murid dengan empat tenaga pengajar, terdiri dari satu kepala sekolah dan tiga guru kelas. Meski sarana dan fasilitas masih terbatas, proses belajar mengajar tetap berjalan demi memberikan pendidikan dasar bagi anak-anak di Kampung Wammar.
Pihak sekolah juga berharap Pemerintah Kabupaten Fakfak bersama yayasan pendidikan dapat lebih memperhatikan nasib guru-guru PAUD di kampung, termasuk memperjuangkan peningkatan honor dan status sekolah.
“Kami berharap TK PAUD Mutiara Harapan bisa menjadi sekolah negeri agar ada perhatian lebih baik dari pemerintah. Kami juga berharap yayasan dan pemerintah dapat memperjuangkan kesejahteraan guru-guru PAUD,” katanya.
Kehadiran Bunda PAUD Fakfak dinilai membawa semangat baru bagi para tenaga pendidik di kampung. Para guru merasa masih ada harapan di tengah berbagai keterbatasan yang selama ini mereka hadapi.
“Dengan hadirnya Bunda PAUD Nurwidayati Samaun Dahlan, ada setitik cahaya dan harapan untuk kami guru-guru PAUD,” ujar salah satu guru.
Fakta memprihatinkan tersebut ternyata bukan hanya dialami TK PAUD Mutiara Harapan Tomage. Sejumlah PAUD lain di Kabupaten Fakfak disebut menghadapi persoalan serupa, mulai dari rendahnya honor guru, keterbatasan fasilitas, hingga minimnya perhatian terhadap pendidikan usia dini di kampung-kampung.
Kondisi ini menjadi alarm serius bahwa pendidikan anak usia dini di daerah masih membutuhkan keberpihakan nyata dari pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan. Sebab, di tangan guru-guru PAUD kampung yang sederhana itulah fondasi masa depan generasi Papua sedang dibangun.
(Ria)




