NEWS

AMDAL Jadi Penentu Nasib Mega Sawit Fakfak! Kadis DLHP Angkat Bicara, Dasa Iskandar Ingatkan Risiko Besar di Balik Investasi

Transparansi Tanpa Tawar

Fakfak, SPIRITREVOLUSI.ID — Proyek perkebunan kelapa sawit skala besar seluas ±15.960,532 hektare di Kabupaten Fakfak resmi memasuki tahapan krusial. Pemerintah daerah melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Kabupaten Fakfak menggelar rapat tim teknis pemeriksaan dokumen formulir Kerangka Acuan (KA) AMDAL sebagai pintu awal penentuan kelayakan lingkungan.

Kegiatan ini membahas rencana pembangunan perkebunan kelapa sawit oleh PT STM Agro Energi yang berlokasi di Distrik Bomberay dan Tomage. Rapat tersebut menjadi fondasi penting sebelum proyek melangkah ke tahap berikutnya, yakni penyusunan dokumen ANDAL hingga penerbitan Persetujuan Kelayakan Lingkungan (PKL).

Kadis DLHP: AMDAL Bukan Formalitas

Kepala DLHP Fakfak, Liza Nairasari, menegaskan bahwa proses AMDAL harus dilakukan secara serius, komprehensif, dan tidak sekadar menjadi syarat administratif.

Menurutnya, tahap Kerangka Acuan merupakan kunci awal untuk menentukan ruang lingkup kajian dampak lingkungan yang akan dianalisis lebih dalam pada tahap berikutnya.

“Di tahap ini kita menentukan arah. Apa saja dampak penting yang harus dikaji, bagaimana metode pengelolaannya, semuanya dimulai dari sini. Jadi tidak boleh dianggap biasa,” tegasnya dalam wawancara usai rapat, Jumat (24/4/2026).

Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Fakfak berkomitmen memastikan setiap investasi yang masuk tetap memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan.

“Investasi penting, tapi lingkungan dan masyarakat juga harus dijaga. Itu prinsip yang tidak bisa ditawar,” ujarnya.

Dasa Iskandar: Ini Gerbang Penentu

Sementara itu, Direktur sekaligus penanggung jawab penyusunan AMDAL, Dasa Iskandar, menegaskan bahwa tahapan ini merupakan gerbang utama seluruh proses perizinan.

“Persetujuan kelayakan lingkungan adalah pintu awal. Kalau di sini tidak kuat, maka risiko ke depan akan sangat besar,” katanya.

Ia menyoroti bahwa wilayah Fakfak, khususnya Distrik Bomberay dan Tomage, memiliki karakter ekologis yang unik dan sensitif sehingga membutuhkan pendekatan khusus dalam penyusunan AMDAL.

“Papua punya kekhasan ekosistem. Tidak bisa disamakan dengan daerah lain. Kalau salah pendekatan, dampaknya bisa luas dan jangka panjang,” jelasnya.

Tiga Pilar Wajib: Lingkungan, Sosial, Kesehatan

Iskandar menekankan bahwa dokumen AMDAL harus berpijak pada tiga pilar utama, yakni:

Keseimbangan ekologis

Sosial budaya masyarakat

Kesehatan lingkungan

Ketiganya, menurut dia, harus terintegrasi dalam setiap rekomendasi pengelolaan dan pemantauan lingkungan.

“Kalau pengelolaannya lemah, bukan hanya lingkungan yang terdampak, tapi bisa memicu konflik sosial bahkan bencana di masa depan,” tegasnya.

Tantangan Nyata: Implementasi dan Pengawasan

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya pada penyusunan dokumen, tetapi pada implementasi di lapangan.

“Banyak dokumen bagus di atas kertas, tapi lemah saat dijalankan. Pengawasan ini yang paling berat dan harus dikawal semua pihak,” ujarnya.

Sorotan Tenaga Kerja Lokal

Selain isu lingkungan, aspek ketenagakerjaan juga menjadi perhatian. PT STM Agro Energi menargetkan sekitar 80 persen tenaga kerja berasal dari masyarakat lokal, khususnya Orang Asli Papua (OAP).

Namun Iskandar mengingatkan bahwa target tersebut harus realistis dan dibarengi dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

“Kalau tidak disiapkan dari sekarang lewat pelatihan dan pembinaan, target itu akan sulit tercapai,” katanya.

Ia mendorong adanya sinergi antara pemerintah, perusahaan, dan lembaga terkait untuk memastikan masyarakat lokal benar-benar siap dan mampu bersaing.

Antara Peluang dan Risiko

Di satu sisi, proyek ini membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja di Fakfak. Namun di sisi lain, risiko lingkungan dan sosial tetap menjadi bayang-bayang yang harus diantisipasi sejak dini.

Iskandar pun mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Fakfak dalam membuka peluang investasi, namun mengingatkan agar tetap menjaga prinsip keberlanjutan.

“Ini peluang besar, tapi jangan sampai hanya mengejar keuntungan. Lingkungan dan masyarakat harus tetap jadi prioritas,” pungkasnya.

Penentu Arah Masa Depan Fakfak

Dengan dimulainya pembahasan Kerangka Acuan AMDAL ini, arah masa depan investasi sawit di Fakfak kini berada di titik penentuan. Apakah proyek ini akan menjadi motor penggerak ekonomi yang berkelanjutan, atau justru memicu persoalan baru—semuanya bergantung pada kualitas perencanaan dan komitmen dalam pelaksanaannya.

(Ria)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button