NEWS

KOPRI PMII: CETAK PEMIMPIN PEREMPUAN BERINTEGRITAS & PEKA SOSIAL

Mahasiswa Wanita Bukan Pelengkap, Melainkan Aktor Utama Perubahan Sosial

MEDAN – Perempuan, khususnya kalangan mahasiswa, kini tidak lagi dipandang sebagai pelengkap dalam pembangunan, melainkan sebagai kekuatan utama yang mampu mendorong perubahan di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, maupun politik. Hal ini ditegaskan dalam tulisan berjudul “Peran KOPRI PMII dalam Membangun Gerakan Perempuan yang Kritis, Inklusif, dan Transformatif” yang ditulis oleh Mei Karina Banurea.

Di tengah tantangan berupa ketidaksetaraan gender, stereotip kepemimpinan, serta terbatasnya ruang pengambilan keputusan, Korp Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI PMII) hadir sebagai wadah kaderisasi sekaligus ruang perjuangan. Organisasi ini berperan melahirkan perempuan berintegritas, berdaya saing, dan peka terhadap persoalan masyarakat, bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan laboratorium kepemimpinan yang nyata.

BACA : INSPEKTORAT PAKPAK BHARAT DI AMBANG KETIDAKPASTIAN: PATUH ATAU PEMBANGKANG PUTUSAN HUKUM? 

Menurut Mei Karina Banurea, fondasi gerakan perempuan dimulai dari kaderisasi berkelanjutan. Melalui pendidikan formal maupun nonformal, kader dibekali pemahaman soal kesetaraan gender, hak asasi manusia, demokrasi, kepemimpinan, hingga pemberdayaan masyarakat. Tujuannya menciptakan sosok yang cerdas secara intelektual sekaligus memiliki keberanian memperjuangkan nilai kemanusiaan.

KOPRI juga berperan strategis membongkar stigma yang masih menempatkan perempuan sebagai pihak kurang layak memimpin atau terlibat publik. Padahal sejarah membuktikan perempuan mampu menjadi penggerak perubahan dan pengambil keputusan berdampak luas. Organisasi ini memperkuat kepercayaan diri agar perempuan tampil maksimal di berbagai sektor.

Kondisi di Kabupaten Dairi menjadi gambaran tantangan di daerah: rendahnya partisipasi dalam organisasi, minim literasi kesetaraan gender, serta terbatasnya ruang diskusi isu perempuan. Menjawab hal itu, KOPRI menghadirkan ruang edukasi lewat diskusi, pelatihan, seminar, kajian, dan kegiatan sosial yang melibatkan perempuan muda sebagai subjek perubahan.

BACA :  TINJAU LOMBA UP2K PKK PROVINSI SUMUT DI KUTA DAME: SINERGI PEMDA DAN MASYARAKAT DORONG EKONOMI KELUARGA 

Sebagai jembatan kampus dan masyarakat, kader KOPRI turun langsung lewat pengabdian: mengedukasi pentingnya pendidikan perempuan, pencegahan kekerasan berbasis gender, kesehatan reproduksi, hingga penguatan ekonomi keluarga. Gerakan ini tidak berhenti di wacana, melainkan menghasilkan dampak nyata yang dirasakan warga.

Di era digital, media sosial menjadi peluang sekaligus tantangan. KOPRI diminta memanfaatkan teknologi informasi untuk kampanye digital, edukasi publik, dan penyebaran narasi positif guna melawan diskriminasi serta memperluas jangkauan gerakan secara efektif.

Ke depan, KOPRI PMII dituntut menjadi pusat gagasan progresif yang menjawab tantangan zaman. Penguatan tradisi intelektual, perluasan jaringan, dan solidaritas antarpuan menjadi kunci membangun gerakan yang inklusif dan berkelanjutan.

“Perjuangan perempuan bukan untuk mengungguli laki-laki, melainkan upaya bersama mewujudkan masyarakat adil, setara, dan bermartabat,” tegas Mei Karina Banurea. Ia menegaskan kemajuan bangsa ditentukan seberapa besar perempuan diberi ruang tumbuh, berdaya, dan memimpin perubahan.

Sebagai penutup, dikutip pernyataan yang menyentuh: “Ketika perempuan
diberdayakan, maka masyarakat akan dikuatkan; dan ketika perempuan bergerak, maka perubahan akan menemukan jalannya.”

Pewarta : serasi Lidya sari Sitohang.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button