Uncategorized

Dugaan Pembunuhan Naman Petrus Barasa Menguat, LMP Dairi Desak Polisi Bongkar Fakta Lima Hari “Hilang” yang Janggal

Transparansi Tanpa Tawar

SpiritRevolusi.ID | Maret 27, 2026 Dairi — Aroma kejanggalan menyelimuti kematian Naman Petrus Barasa. Bukan sekadar kasus orang tenggelam, keluarga mencium kuat dugaan pembunuhan brutal yang berusaha disamarkan. Lima hari korban “hilang” sejak dijemput seseorang berinisial HT, berakhir dengan ditemukannya jasad dalam kondisi mengenaskan di aliran sungai Dusun Lau Gunung, Desa Pamah, Kecamatan Tanah Pinem, Kabupaten Dairi, pada 23 Maret 2026.

Istri korban, Feni Indriani Bancin, tak tinggal diam. Ia resmi melapor ke Polres Dairi dengan nomor: STTLP/B/124/III/2026/SPKT/POLRES DAIRI/POLDA SUMATERA UTARA pada tanggal 26 Maret 2026. Laporan itu mengarah pada dugaan tindak pidana pembunuhan sebagaimana diatur dalam Pasal 458 dan/atau 459 KUHP, dengan terlapor berinisial HT.

Pendampingan hukum langsung dikawal Biro Hukum Laskar Merah Putih (LMP) Dairi. Tim kuasa hukum Jetra Bakara dan Ira bersama Ketua LMP Fry Charles Pasaribu turun langsung mengawal proses pelaporan.

“Ini bukan kematian biasa. Banyak fakta yang tidak sinkron. Kami menduga kuat ada tindakan kekerasan sebelum korban ditemukan,” tegas Jetra.

Fakta Mengerikan di Balik Jasad

Klaim “tenggelam” mulai runtuh saat keluarga membuka kantong jenazah. Kondisi tubuh korban justru menunjukkan indikasi kekerasan berat:

  • Rahang remuk
  • Bola mata kiri hilang
  •  Kaki kiri patah
  • Lebam pada pergelangan tangan dan kaki
  • Jari-jari tangan kiri hilang
  • Memar di sekujur pinggang
  • Tidak ada pembengkakan jasad seperti lazimnya korban tenggelam, meski telah lima hari hilang

Fakta ini menjadi bom waktu bagi aparat. Jika benar ada upaya pengaburan penyebab kematian, maka ini bukan sekadar kriminal biasa—ini kejahatan serius yang harus dibongkar tanpa kompromi.

Lima Hari Hilang, HT Jadi Kunci

Korban terakhir diketahui bersama HT pada 18 Maret 2026. Sejak saat itu, korban tak pernah kembali. Lima hari tanpa jejak, hingga akhirnya ditemukan tak bernyawa. Korban semula berangkat ke Dusun Lau Salak untuk mencari mobil yang diduga dicuri sebelum menghilang.

“Kami menduga HT mengetahui seluruh rangkaian kejadian. Ini harus dibuka terang. Jangan ada yang ditutup-tutupi,” tegas kuasa hukum.

Bayang-bayang Kasus Narkoba

Ironisnya, hilangnya korban disebut berkaitan dengan peristiwa penggerebekan narkoba pada tanggal yang sama. Jika benang merah ini benar, maka kasus ini berpotensi lebih besar dari sekadar pembunuhan—bisa menyeret jaringan yang lebih luas. LMP bahkan menyatakan perang terhadap narkoba dan siap berdiri di garis depan mengawal kasus ini.

Tuntutan Keadilan Tanpa Tawar

Di tengah duka, Feni hanya menuntut satu hal: keadilan.

“Saya hanya ingin kematian suami saya diusut seterang-terangnya. Banyak kejanggalan. Kami tidak akan diam,” ucapnya.

Desakan autopsi pun menguat. Keluarga ingin penyebab kematian dibuktikan secara ilmiah, bukan sekadar asumsi.

Hingga kini, Polres Dairi masih melakukan penyelidikan. Namun publik menunggu lebih dari sekadar proses—mereka menuntut keberanian untuk membongkar fakta.

Kasus ini kini menjadi ujian: apakah hukum benar-benar berpihak pada kebenaran, atau justru tunduk pada tekanan yang tak terlihat.

(engeten boang M.)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button